Langsung ke konten utama

Curhatan sang Pemberani (?)


Pernah merasa menjadi menyedihkan? Atau menjadi orang yang tidak tau sama sekali kata hati. Apa yang benar-benar di inginkan oleh hati. Aku mudah berubah pikiran. Konyol sekali. Semua yang aku lakukan seperti percuma. Tidak ada gunanya sama sekali. Hari itu aku melihatnya sedang duduk mendengarkan lagu dengan headphone di telinganya. Ia tersenyum dan menggumam. Aku menatapnya dari balik daun taman sekolah dengan majalah yang sengaja ku biarkan terbuka. Mungkin karena merasa diperhatikan, ia menoleh ke arahku. TUHAN... IA MENATAPKU!! Reflek aku mengalihkan mataku kearah majalah terbalik tersebut. Ia tertawa... benar-benar tertawa dengan tingkahku. Ia sangat cantik dalam ekspresi ataupun keadaan apapun juga. Dari belakangpun dia juga terlihat sangat cantik. Apalagi kalau lampu sedang mati, aura kecantikannya bersinar menyilaukan hatiku yang sedang lope-lope di udara #eaa.  “woy, ngapain lu di sini?”kata USB sambil ikut ngintip buku yang Cuma aku liat tanpa membaca. “nih, keren banget”tunjuku asal. “keren? Ini iklan shampo buat nenek-nenek usia lanjut kali... yakin lo gakpapa?”kata USB. “apaansih... gakpapa lah. Udah ah, yuk cabut”kataku mengalihkan perhatian. Esoknya aku melihatnya lagi. Kali ini ia membaca majalah yang sama sepertiku kemarin. Tanpa sadar aku duduk di sampingnya. Gilaa rasa canggung ini serasa mencekik urat-urat di leherku. (baca: BUKAN ASAM URAT). “ngapain juga tadi aku kesini? Berani banget gua...”gerutuku dalam hati. Suer deh, ini lidah bener-bener kelu. Nggak bisa ngomong apa-apa. Sedang ia, meletakkan majalahnya kemudian tersenyum melihatku. Aaahh, “APA YANG HARUS GUA LAKUIN? IBUUU TOLONG ANAKMU INI IBUU!”hatiku berteriak minta tolong. Mental ikan teri emang. Takut banget deh. Akhirnya dengan seribu jurus penakhluk motivasi diri aku tersenyum kepadanya. Gilamen, gua bisa senyum.. bayangin aja betapa hebatnya gua pada saat itu. Tolong berikan sedikit lagi harga diri, dikit aja udah nggak usah banyak-banyak. 
Perempuan ini sudah ada di hatiku sejak 2 tahun lalu, tapi ya begitulah... aku takut untuk mendekatinya. Kalau kata lagu sih aku ‘lupa bawa nyali’. Aku kayak preman di sekolah, tapi mental ciut kalau ketemu dengannya (baca: agak culun juga sih). Tidak ada yang bisa aku lakukan. Kadang aku melihatnya saat ia melihatku. Entah perasaan apa ini, aku senang sekali. Dan ku kira ia juga menyukaiku, karena setiap bertemu denganku ia selalu tersenyum tersipu saat melihatku. Sedikit lagi. Andaikan aku punya nyali. Andaikan. Sampai saat itu “besok datang ya ke cafe biasa.. gua traktir deh”kata USB cengar-cengir. “kenapa emang? Seneng banget kayaknya?”kataku penasaran. “udah datang aja, lo kan sahabat terbaik gue..”katanya lagi. Aneh sekali, mungkinkah ia menang kejuaraan basket lagi? Ah udahlah kalau temen bahagia aku juga akan bahagia. Kata-kata itu menusuk kedalam hatiku membuatku tersenyum juga. Aku datang dengan tenang dan bahagia. Yaiyalah bahagia, makan geratis gitu loh siapa yang nggak mau coba. Apalagi yang nraktir USB, ini peristiwa momen sejarah yang harus diabadikan karena untuk pertama kalinya si Udin Soang Banget ini nraktir. Aku tiba dengan wajah berseri-seri bersiap memilih makanan termahal di cafe. Namanya juga kesempatan, kan gakpapa makan enak di bayarin. USB tiba menyambutku, ia tertawa dan berkata “akhirnya datang juga, yuk masuk.. pilih makanan apa aja deh”. “girang banget, cerita dong!”kataku penasaran. Mungkinkah? Benar seperti yang kalian duga, ia datang dengan perempuanku, perempuan yang selalu tersipu malu saat melihatku. Yang selalu mengajakku berbicara duluan saat aku lupa bawa nyali ketika menghampirinya. Yang tertawa hanya dengan melihat ekspresiku. Yang selalu... yang selalu membuatku memikirkan senyumnya dan berharap bisa aku miliki. Yang... aku kira ia menyukaiku. Bagai tersambar petir tawaku hilang seketika saat USB memperkenalkanku padanya. Aku tertawa, benar-benar tertawa saat itu juga, aku tidak berhenti tertawa sampai perasaanku tidak terlalu terluka. Sampai air mataku mencair. Bukan. Bukan karena tertawa, tapi ini (baca: hati) terluka. Aku memendamnya. Seolah-olah ia menyukaiku. Kemudian aku tersenyum dengan keyakinan yang bagi orang lain sulit untuk diartikan sebagai senyum palsu. Aku mengulurkan tangan dan tersenyum berkata “selamat ya”. Kemudian tertawa berlalu pergi. Tak ada masalah dengan persahabatanku dengan Usb. Aku tau, aku akan baik-baik saja meski sakit saat melihatnya. Namun aku menahannya dengan harapan semua rasa itu akan hilang dengan sendirinya. Semoga. Saat semua orang memiliki cinta, yang kulakukan hanya duduk sendiri menahan sepi. Tidak apa-apa. Aku baik-baik saja. Mungkin ini cara Tuhan untuk mengatakan apa yang terbaik.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensitifitas Keyakinan

Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis. Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya. Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-...

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...

Puisi Seorang Amatir

Kamu Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga Di sampingku dengan menatapku. Kamu. Dalam perasaan terjauh yang aku jalani Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku Kamu di sini. Bersamaku Untuk suatu hari, entah akankah pasti Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu Terbang menari bersamaku Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu Aku suka. Suka saat kau bersamaku Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’) 24 Nop. 12 20:11