Langsung ke konten utama

Puisi Seorang Amatir


Kamu
Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga
Di sampingku dengan menatapku.
Kamu.
Dalam perasaan terjauh yang aku jalani
Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku
Kamu di sini. Bersamaku
Untuk suatu hari, entah akankah pasti
Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu
Terbang menari bersamaku
Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu
Aku suka. Suka saat kau bersamaku
Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati
Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’)
24 Nop. 12 20:11

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensitifitas Keyakinan

Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis. Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya. Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-...

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...