Aku menikmatinya. Rasa kesal
tentang segala yang terjadi. Ungkapan hati dalam tangis tak mengerti. Aku..
aku.. apa hanya aku yang merasakannya? Rasa yang membelenggu jauh dalam hatiku.
Aku merasakannya. Apa kau pernah tau, saat tiba-tiba jantungku berdetak begitu
keras kemudian berhenti begitu saja setiap saat melihatmu. Apa bisa kau pahami?
Aku, hanya hidup tanpa rasa. Aku menguncinya. Untuk sesuatu yang ku anggap
begitu hebat. Aku memenjarakannya. Dan membiarkan rasa itu mati. Aku
mengabaikannya. Sesuatu yang selalu membuat orang lain bahagia dan berusaha
untuk mendapatkannya. Aku membiarkannya pergi. Sedang mereka selalu mencoba
untuk mencarinya. Entahlah. Apa yang bisa ku lakukan? Apa hanya aku? Rasa ini
semakin menjadi sebuah ketakutan dalam pedihku. Di dalam kesenduan yang
tercipta ketakberdayaan. Aku benar-benar tidak mengerti tentang bahasa hidupku.
Suatu saat izinkan aku kembali. Masih bisakah rasa itu kembali kepadaku? Suatu saat
tentang hidup yang perlu di perjuangkan. Terkadang aku benci menjadi dewasa.
Ada saat-saat di mana aku ingin berpikir seperti anak-anak. Aku hanya tidak
suka dengan cara seseorang berkata itu dewasa. Dimana hanya ada kata memahami
dan mengerti. Aku
hanya ingin bertanya. Tentang rasa yang selalu ku pendam sendiri. Perasaan
marah namun saat aku tersenyum. Aku bersyukur. Namun hatiku ragu. Saaat mereka
mulai mengenal cinta. Sedang aku hanya duduk untuk menutup diri. Sendiri
berbalut sepi. Hingga mereka mulai menemukanku. Lemah terkapar dalam diamku.
Aku tegar. Untuk saat-saat yang ku hadapi. Siapa seseorang yang mengerti? Untuk
sekedar mengajarkan aku tentang cinta dalam hakikatnya. Tentang satu dalam hati
seseorang. Seandainya cinta tak harus memiliki. Untuk setiap bahasa yang tak ku
mengerti. Bayangkan tak ada lagi udara yang mau untuk ku hirup. Sedang semua
akan mendapatkannya. Atau air yang begitu lari menerobos celah-celah senyumku.
Aku tidak pernah mengerti apa arti dari semua ini.
Mereka selalu berkata bisakah posisi tersebut ditukar. Aku yang menyakiti, dan kamu yang memahami. Apa itu jauh lebih bahagia? Apa sedangkal itu pemikiran tentang cinta? Apa yang sanggup kau pikirkan? Menjalani hidup dengan sendiri. Bukankah itu sangat menyakitkan? Aku yang terlalu bodoh atau memang nyata yang tak pernah hadir?
Mereka selalu berkata bisakah posisi tersebut ditukar. Aku yang menyakiti, dan kamu yang memahami. Apa itu jauh lebih bahagia? Apa sedangkal itu pemikiran tentang cinta? Apa yang sanggup kau pikirkan? Menjalani hidup dengan sendiri. Bukankah itu sangat menyakitkan? Aku yang terlalu bodoh atau memang nyata yang tak pernah hadir?

Komentar
Posting Komentar
silahkan curhatttt