Langsung ke konten utama

Ungkapan saja; abaikan

Aku menikmatinya. Rasa kesal tentang segala yang terjadi. Ungkapan hati dalam tangis tak mengerti. Aku.. aku.. apa hanya aku yang merasakannya? Rasa yang membelenggu jauh dalam hatiku. Aku merasakannya. Apa kau pernah tau, saat tiba-tiba jantungku berdetak begitu keras kemudian berhenti begitu saja setiap saat melihatmu. Apa bisa kau pahami? Aku, hanya hidup tanpa rasa. Aku menguncinya. Untuk sesuatu yang ku anggap begitu hebat. Aku memenjarakannya. Dan membiarkan rasa itu mati. Aku mengabaikannya. Sesuatu yang selalu membuat orang lain bahagia dan berusaha untuk mendapatkannya. Aku membiarkannya pergi. Sedang mereka selalu mencoba untuk mencarinya. Entahlah. Apa yang bisa ku lakukan? Apa hanya aku? Rasa ini semakin menjadi sebuah ketakutan dalam pedihku. Di dalam kesenduan yang tercipta ketakberdayaan. Aku benar-benar tidak mengerti tentang bahasa hidupku. Suatu saat izinkan aku kembali. Masih bisakah rasa itu kembali kepadaku? Suatu saat tentang hidup yang perlu di perjuangkan. Terkadang aku benci menjadi dewasa. Ada saat-saat di mana aku ingin berpikir seperti anak-anak. Aku hanya tidak suka dengan cara seseorang berkata itu dewasa. Dimana hanya ada kata memahami dan mengerti.   Aku hanya ingin bertanya. Tentang rasa yang selalu ku pendam sendiri. Perasaan marah namun saat aku tersenyum. Aku bersyukur. Namun hatiku ragu. Saaat mereka mulai mengenal cinta. Sedang aku hanya duduk untuk menutup diri. Sendiri berbalut sepi. Hingga mereka mulai menemukanku. Lemah terkapar dalam diamku. Aku tegar. Untuk saat-saat yang ku hadapi. Siapa seseorang yang mengerti? Untuk sekedar mengajarkan aku tentang cinta dalam hakikatnya. Tentang satu dalam hati seseorang. Seandainya cinta tak harus memiliki. Untuk setiap bahasa yang tak ku mengerti. Bayangkan tak ada lagi udara yang mau untuk ku hirup. Sedang semua akan mendapatkannya. Atau air yang begitu lari menerobos celah-celah senyumku. Aku tidak pernah mengerti apa arti dari semua ini.
Mereka selalu berkata bisakah posisi tersebut ditukar. Aku yang menyakiti, dan kamu yang memahami. Apa itu jauh lebih bahagia? Apa sedangkal itu pemikiran tentang cinta? Apa yang sanggup kau pikirkan? Menjalani hidup dengan sendiri. Bukankah itu sangat menyakitkan? Aku yang terlalu bodoh atau memang nyata yang tak pernah hadir?

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensitifitas Keyakinan

Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis. Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya. Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-...

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...

Puisi Seorang Amatir

Kamu Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga Di sampingku dengan menatapku. Kamu. Dalam perasaan terjauh yang aku jalani Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku Kamu di sini. Bersamaku Untuk suatu hari, entah akankah pasti Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu Terbang menari bersamaku Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu Aku suka. Suka saat kau bersamaku Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’) 24 Nop. 12 20:11