Saat hari berganti dengan bulan. Saat hujan berganti dengan pelangi.
Detik-demi-detik. Saat duka berganti dengan tawa. Hitam yang menjadi putih. Dan
banyak sekali perumpamaan bahagia. Kata bahagia. Susah ah menyebutkannya
satu-persatu, repot. Cerita lagi? Tentu, namanya juga angel’s story. Bermula dari seorang anak manusia yang
sederhana yang menghargai kata kesabaran. Ia mempunyai cinta. Entahlah, apa itu
bisa dikatakan bahagia. Pop namanya. Ia menyukai seseorang dengan hanya
menatapnya. Baginya cinta hanya sesederhana itu. Tanpa perlu berbicara.
Penggemar rahasia? “aku bukan seorang penggemar rahasia. Aku hanya menyukainya
tanpa mengatakannya.” Kata Pop pada sahabatnya ketika ia menceritakan pujaan
hatinya. Bagaimana pula ia bisa mengatakannya, sedang saat bertemu saja kakinya
selalu gemetaran minta pulang. Ia sangat menghargai kesabaran. Benar, tidak
main-main 3tahun ia menyukai sesosok yang katanya pujaan hatinya itu. Tanpa
mengatakannya. Aneh sekali. Sebenarnya, slama ini apa yang ia tunggu? Sedangkan
ngomong dengan pujaan hatinya saja tidak pernah.
Ia hanya memupuk cintanya
hanya dengan menatap sang pujaan hati itu. Gila. Benar-benar gila. “Ia harus di
kenalkan dengan kata move on”kata sahabatnya yang prihatin dengan Pop. “Pop,
kau pernah berbicara padanya?” kata sahabatnya itu. “tidak” dengan wajah santai
Pop mengatakannya. “satu kata saja?”. “tidak pernah”. “satu huruf?”. “tidak
pernah”.“mengapa?” kata sahabatnya yang sudah gregetan. “dia tidak
mengenalku.___.”kata Pop yang memasang wajah datar yang tetap alay. “APA? KOK
SAMPAI 3 TAHUN?”. “aku bodoh ya?”. “BANGET!” aduh sahabatnya yang keceplosan
kemudian memegang kepala dengan kedua kakinya. Tolong jangan tanya saya
bagaimana itu, pikirkan sendiri saja.“lo hidup pada jaman apa sih? pokoknya lo
harus move on! Kalo kata Tere lijhe, kamu hanya menyugesti hatimu untuk
menyukainya, padahal perasaan itu sudah tidak ada. Bersih dengan waktu. Gue
cariin pacar deh!” kata sahabatnya dengan predikat sejuta mantan telah
terlampaui. “nggak ah. Orang yang kau carikan pasti pada nggak bener” kata Pop
dengan mengingat mantan-mantan pacar sahabatnya yang aneh-aneh. Mulai dari
tukang becak (MASIH REMAJA TUKANGNYA!) sampai satpam sekolah di gebet juga
(TAPI SATPAMNYA GANTENG). Pop menggidik ngeri. Secara, pujaan hatinya itu
seperti artis yang nyasar ke sekolah. Jadi nyali Pop ciut untuk mendekati
pujaan hati dengan sejuta fans terlampaui. Ohhh. “tapi pada ganteng semua
mantan gua. nggak mau tau, pokoknya besok lo harus mau gue ajak kenalan!” kata
sahabatnya itu. “terserah deh. Tapi, please
jangen aneh-aneh ya.” Kata Pop.
Ke-esokan-harinya Pop dan Vicidy (baca; nama sahabat Pop) pergi ke
taman untuk hunting. Hunting pacar! Bayangkan. “kalau yang itu gimana? Nama
kerennya Cool” kata Vicidy. “siapa?”kata Pop. “namanya Cool. Aslinya Kulnaedi,
tapi orang menyebutnya Cool”jelas Vicidy tentang orang keren dengan jambul 2
meter di kepalanya. Pakai kemeja kembang hijau-ungu. Pakai kawat pager di
giginya.Tuhaan, orang memanggilnya cool=keren. “cool darimana? Yang lain deh” gumam
Pop dengan ngeri sambil memalingkan wajah. “kalau yang itu? Nama kerennya Bask,
nama aslinya Basamen, dia itu penyanyi rocker.”kata Vicidy sambil senyum dengan
tangan metal. “pengamen rocker maksudnya?”kata Pop setelah melihat orang dengan
gaya rambut mirip drummer TRIAD
sambil memainkan ukulele atau apalah itu namanya. Pakai celana jins pendek
setengah paha dengan rantai dimana-mana, pakai jaket kulit (baca; kulit ayam)
sambil bawa bekas bungkus makanan untuk recehan. “next-next-next... please yang
bener. Aku mau laki-laki normal!”kata Pop dengan wajah menciut. “umm, kalau
yang itu? Dia normal. Namanya Normal, itu nama asli.” Kata Vicidy sambil
menahan tawa dengan tangannya. “dia? Namanya Normal?”kata Pop yang
menepuk-nepuk dahinya. Laki-laki ini sangat normal. Mulai dari bawah pakai
sepatu pantofel coklat muda, celana kain biru indigo, kemeja kotak-kotak biru
putih, pakai kaca mata tebel kuda, tahi lalat di keningnya, dengan gigi di
kawat warna-warni. Rambutnya belah tengah sambil bawa buku tebel-tebel di
taman. Normal kan? (baca; culun). “oh Vicidy, kita pulang aja. Pening kepalaku.
Lebih baik aku nggak move on deh”kata Pop dengan mengetuk-ketukan kakinya di
tanah. Manggil eyang gusur? Entahlah. “please Pop, lo pasti bakal move on kalau
ngliat yang itu!”kata Vicidy dengan senyum sumringah selebar daun kelor. Pop menoleh, cahaya menyilaukan mata Pop pada
laki-laki yang berdiri membelakangi matahari itu. Bunga-bunga bermekaran,
daun-daun berguguran di bawahnya. Ia tersenyum setelah Vicidy melabaikan
tanggannya pada laki-laki itu. Senyumnya seperti gulali anak TK yang bisa di
bentuk. Segurih kue leker SD depan Stadion. Seperti kue nastar saat lebaran dan
juga opor ayam saat lebaran ketupat. Dan seperti makanan lainnya. Maniis
sekali. Tanpa sadar Pop tersenyum gurih gule ayam. Kok makanan? Maaf laper.
Pria itu sudah tepat di depan mata Pop. Rasanya seperti mimpi siang di taman.
Ganteng sekali. “perkenalin, ini teman gue. Pop ini Cologne, panjangnya Cologne
spray. Cologne ini Pop, panjangnya Pop Corn” Kata Vicidy yang mundur-mundur
sambil senyum. “namanya Cologne spray ya? Pantes harum banget”kata Pop ngaco.
Tapi dari jarak 3 meter kita mudah sekali menemukan Cologne karena bau wangi parfum
yang ia gunakan. Wangi banget. Sambil tersenyum Cologne berkata “jadi Pop,
maukah kau makan malam bersamaku nanti?”. Pop hanya tersenyum dangan wajah
merah merona.

Komentar
Posting Komentar
silahkan curhatttt