Langsung ke konten utama

Puisi Amatir


Mimpi Yang Terlewatkan
25.10.2012
Tuhan, semua menjadi diam
Kata-kata yang begitu menyakitkan
Ia datang dan merengkuhku
Hari ini telah datang
Ia menyapaku dengan begitu menyesakkan
Semua terlalu larut
Aku yang sama sekali tak memahami
Atau aku yang terlalu menyedihkan
Rasa aneh yang tak dapat dimengerti
Menjalani hidup, dalam arti yang tak pasti
Mungkinkah ini?
Aku selalu berharap ini hanya mimpi yang sanggup di bangunkan
Terlalu terlena dalam senyumku
Tanpa di sadari air mata ini begitu berharga
Namun, terlampiaskan sia-sia
Ada hariku menangis sedih
Tanpa tau atau sekedar mengerti
Tentang apa yang telah terjadi
Aku benci dengan jiwaku yang terus meronta
Membiarkan semua terjadi tanpa tertawa
Apa aku salah?
Ataukah hanya impian yang terlalu konyol?
Mata mengalir begitu sakitnya
Benar-benar menyedihkan
Atau hanya ingin menunggu
Entah kapan hati akan pergi
Menyambutnya dengan air mata yang tulus
Sedikit demi sedikit.
Pelan namun sungguh pasti
Saat semua menjadi lebih indah
Lebih jelas dari sebelumnya

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensitifitas Keyakinan

Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis. Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya. Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-...

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...

Puisi Seorang Amatir

Kamu Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga Di sampingku dengan menatapku. Kamu. Dalam perasaan terjauh yang aku jalani Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku Kamu di sini. Bersamaku Untuk suatu hari, entah akankah pasti Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu Terbang menari bersamaku Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu Aku suka. Suka saat kau bersamaku Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’) 24 Nop. 12 20:11