Langsung ke konten utama

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn... dan seketika itu tubuhku terasa membeku, wajahku kelu dan lidahku kaku. Oh ibu, orang ini mempercepat denyut nadiku. Membuatku gugup menahan cemas dan tawa. “Dek na, aku mau ngembalikan kunci motor kakakmu yang tadi aku pinjem” kata orang itu. Rexo. Mas Rexo namanya (baca; temen kakakku).
 Tuhaann. Laki-laki gagah ganteng tegap tinggi putih imut manis super keren ini pesonanya bikin merinding. Jadi kelihatan tolol banget orang yang di ajak bicara (baca; aku!). Entahlah, aku reflek mengangguk  sambil tersenyum kegirangan yang untung saja bisa aku tahan. Untung saja. Harga diri. Tangan ku reflek akan mengambil kunci. Tapi kurang 3cm lagi tangan ku dengan kunci, entah kenapa pikiranku buyar. Nggak sinkron dengan otak. Gugup. Alay banget. Tapi ini beneran gugup. Jadilah gemeter salah tingkah tanganku saat itu pada 3cm dari kunci. Dengan kilat cepat aku menarik tanganku dan berlari kearah garasi meninggalkan Rexo dengan wajah bingungnya. “Naa..” teriak Rexo masih dengan wajah bingungnya. Tuhan, tinggal 3cm doang. Dengan kebat-kebit aku bersembunyi di balik pintu garasi. Jantungku berdebar parah. Tapi seneng. Seneng banget. “kenapa jadi salah tingkah gini sih?”gerutuku dalam hati. “Seharusnya aku nggak kaya gitu!”masih menyumpah dalam hati. Entahlah bagaimana wajahku tadi. Graduasi? LEBIH PARAH dari itu. Tapi aku masih ketawa. Lucu banget Rexo. Ganteng banget. Hah. Lupakanlah harga diri atau gengsi. Seneng banget ngeliat Rexo ngomong sama aku. Dia tau namaku! Aku dipanggil Dek! Pelan-pelan aku buka pintu garasi (baca; niat ngintip). Kulihatin Rexo yang berbicara pada kakakku. Pamit pulang atau malah membahas sikap konyolku. Entahlah. Aku udah senyum bahagia banget. Rasanya pengen banget ngebuka pintu garasi lalu berjalan anggun minta kunci ke Rexo sambil kasih senyum paliiing maniiss. Ah, ngayal. Jantungku masih kebat-kebit karena kegirangan. Seneeeng banget. Rexo benar-benar pamit pulang. Ia berjalan menuju luar rumah. “satu... dua... TIGA..” hitungku kayak bersenandung kemudian cemberut. “satu... dua.. TIGA..” gagal. Aku bener-bener pasang wajah cemberut minta di tabok. “satu... dua.. ti... ti... TIGAaa... DIA NENGOK KE AKU!” nggak ragu lagi buat loncat sampai nubruk pintu garasi. “aduh sakit..” kataku sambil menutup mulut. Bahagia itu sederhana. Ingat? Angkat tangan ke atas, tangan mengepal, tarik ke bawah, katakan YES!!!

Komentar