Langsung ke konten utama

Kisah Kakak dan Adik

Ini cinta antara kakak dan adik. Bukan seperti kekasih, tapi sayang antara saudara. Hubungan saudara yang kadang aneh, lucu menyebalkan. Terkadang ada kepuasan tersendiri saat kakak sudah menindas adiknya. Dan perasaan kesal tersendiri pada adek. Nier mempunyai kakak laki-laki bernama Garn. Garn suka sekali menggoda dan menindas Nier. Sedang Nier? Ia baru berumur lima, apa yang ia paham? Ejekan seperti menjadi makanan sehari-harinya. Tapi tanpa perlu bertanya, mereka saling menyayangi sebagai kakak dan adik. Sifat kakaknya yang cuek pada dirinya, tapi tidak pada orang lain membuatnya entahlah apa nama perasaan itu. Marah? Atau kesal. Tidak ada definisi, ia baru berumur lima. 
       Kau tau, seorang adik kebanyakan akan berada dalam bayang-banyang kakaknya. Meniru apa yang ia lakukan, kesukaan dan apapun. Setelah perang dingin berhari-hari, Nier sampai pada suatu titik dimana Garn menjadi sangat pendiam padanya. Cuek sekali, tak ada ejekan lagi. Bosan? Mungkin. “seperti ada sesuatu yang hilang..” gumam nier. Sungguh lebih baik di ejek daripada didiamkan seperti itu. Seperti... tidak peduli. “Kak Garn jelek...” sapa Nier saat kakaknya lewat. Ia selalu mengulanginya setiap kakaknya lewat. Garn seolah menutup telinga dan berlalu begitu saja. Seperti Perang dingin, tapi ini berbeda dari sebelumnya. Apa yang telah ia lakukan sampai Garn diam seperti itu? Sekali lagi, entahlah. “kalau ngomong nggak di gubris, pakai surat aja!” usul tetangga sebelah, teman main Nier. “oke deh, makasih ya..”Nier sudah sumringah pulang untuk menulis. “tapi mau nulis apa?” kata Nier. Kemudian ia menulis apa yang ada di pikirannya.
     Ia selipkan di pintu kamar Garn. “kak, maaf meminta waktumu, semoga kau membacanya.” Gumam Nier sambil menyelipkan surat itu. Garn yang mulai beranjak remaja, tentunya tidak mau memahami urusan anak kecil seperti itu. Semoga hatinya tergerak. Itu harapan Nier. Ia belum membaca surat Nier, hanya meletakannya di samping laci saja. Ibunya sangat menyayangi Garn. Ada apa dengan ibunya sampai harus membandingkan Nier dengan Garn. Memarahi kesalahan pada Nier walaupun itu bukan kesalahannya. Ibunya seperti berambisi membuat Nier seperti kakaknya. Apa yang bisa di bandingkan. Nier baru berumur lima? Bagaimana bisa? Sedang ayahnya sangat menyayangi keponakannya. Ia di bandingkan lagi, di jelekkan lagi. Oh ibu, ia baru berumur lima. Lalu ia harus meminta siapa untuk peduli? Kakanya diam, ibunya memarahi, ayahnya tidak peduli. 

Apa yang harus ia lakukan. Ia terlalu kecil untuk tidak di pedulikan. Hari itu ia bermain bersama teman-temannya. “ayo naik kalau berani. Aku aja berani, masa kamu enggak?” kata salah satu temannya yang sudah berada di atas pohon beringin. Dengan hati-hati nier menaiki pohon beringin. “aku bukan pengecut” kata Nier sambil tertawa. Sampai diatas mereka mengobrol banyak. Tiga orang yang berada diatas. Mereka bermain seperti Tarzan menggunakan akar gantung beringin. “Auoooo” teriak teman Nier yang berayun dengan akar gantung. “ayo Nier, sekarang giliranmu”katanya. “kau yakin ini kuat?”. “tentu. Kau kan lihat sendiri aku bisa berayun tadi”. “baiklah..” jawab nier yang sedikit ragu. Ia bagian terakhir. Saat memegang akar gantung seperti ada yang mendorongnya. Oh ibu, ia jatuh dengan masih memgang akar gantung. Ia jatuh dari pohon beringin tua yang sangat tinggi. Ia jatuh dengan kepala yang lebih dulu menyentuh tanah. Badannya dingin, tidak bisa di bangunkan. Sedang di rumah ayah ibunya sedang tertawa. Mereka sedang sangat senang. Mereka tidak tau apa yang terjadi. Garn hanya duduk menghadap meja, kemudian menemukan surat Nier.

untuk kakakku Garn. Kakak apa kabar? Kakak maafkan aku jika melakukan kesalahan yang membuat kakak menjadi tidak peduli seperti itu kepadaku. Maafkan aku kak, aku tidak tau kakak sangat marah. Aku kangen sama kakakku yang dulu. Meskipun mengejek dan menggodaku, aku masih yakin itu karena dia peduli. Aku tau, walaupun kakak mungkin tidak pernah kepikiran. Tapi aku masih yakin kalau kakak menyayangiku. Aku sayang sama kakak. Karena aku adikmu. Masih tetap adikmu kak, walau kakak tidak mengakui ataupun menyangkal di depan teman-teman kakak. Maaf jika kakak malu. Tapi aku sayang kakak dan aku adikmu. Dari nier”.

Komentar