Langsung ke konten utama

Sejuta Harapan [ palsu ]


Hari ini aku akan menuliskan sebuah kisah klasik. Kanna adalah siswi di salah satu kelas musik. Ia belajar musik dengan hatinya. Kanna adalah pemain tamborin yang handal di kelasnya. Ia benar-benar murid yang sangat ceria. Berbeda dengan Insto, murid yang pendiam penuh dengan misteri kerennya. Hampir semua murid bertekuk lutut menjadi fans setia mengagumi ke-kerenan-nya dan dawai biolanya, kecuali Kanna dan murid laki-laki. Bukannya ia benci, tapi ia hanya tidak tertarik. Kanna menganggap semua temannya sama tanpa harus membeda-bedakan, karena itu ia menjadi pribadi yang di sukai teman-temannya. Fansnya juga nggak kalah banyak, tapi ia cuek menanggapi-nya. “seperti tahun-tahun sebelumnya, kita akan mengadakan pentas musik di awal tahun. Oleh karena itu, saya akan membagi kalian dalam beberapa kelompok musik dengan anggota dua orang anak.” Kata Mr Calpanax menerangkan dengan ke-kharismanya menggeludak area nusantara. Murid-murid terbiasa memasang wajah mupeng (muka-pengen) sambil senyum kedip-kedip ke arah Mr Calpanax karena kharismanya. Seperti yang kalian duga, Kanna satu kelompok dengan Insto. “jadi, kapan kita akan mulai latihan?” kata Kanna yang mengahampiri Insto. “taman 4 sore” jawab Insto cueknya, kemudian berlalu pergi. “Insto ini, mau ngajak kencan apa? Biasanya, jam 4 di taman kota kan banyak orang pacaran.”gumam Kanna dengan menggerutu. Egois juga kesannya. Nggak enak banget ngelihat orang pacaran berlalu lalang di depannya, sedangkan ia sedang jomb, solo karir maksudnya. Resiko.
Pukul 4 ia datang ke taman kota. Benar saja banyak orang pacaran di sana. “maaf, kamu nunggunya lama?” kata Insto datang dengan ransel biolanya. Banyak cewek yang nggak kedip melihat Insto, sedangkan mereka masih menggenggam tangan pacarnya. Gilaaa. “sopan juga si Insto, beda kayak gosip yang beredar selama ini”gumam kanna di dalam hati sambil menggeleng kasih senyum manis. “oiya, ini..”kata Insto sambil menyodorkan es krim coklat kesukaan Kanna. Tentu saja Kanna terkejut. “aneh sekali”pikirnya sambil tersenyum mengambil es  krim. “terimakasih. Oiya, apa konsep yang akan kita buat?” kata Kanna melepas ke-canggung-an karena es krim tadi. “Mm, bagaimana kalau... bla bla bla”kata Insto panjang lebar. Percuma juga aku sebutin, aku aja nggak ngerti apa yang di omongkan insto. Kemudian Insto mulai memainkan Biolanya, entahlah Kanna yang seharusnya memainkan tamborin justru larut dalam permainan insto dan tanpa sadar meletakkan tamborinnya. “ia benar-benar mengagumkan”kata kanna dalam hati sambil senyum-senyum nggak sadar. “loh kok berhenti?”kata Kanna. Insto yang mulai sadar di perhatikan-pun menghentikan permainannya dan berkata “kok nggak main tamborin?”. “sorry, ikut larut. pantas aja kamu banyak yang nge-fans. Permainannya aja bikin bidadari lupa diri gitu” kata kanna yang lagi-lagi tidak sadar dengan kata-katanya. Ia pun menunduk malu dengan seribu wajah menutupi. Saat ia akan menegakkan kepalanya kembali, ada sebuah bunga mawar yang tepat berada di depannya.
 Insto yang memberikannya sambil tersenyum kemudian bernyanyi dengan biolanya. Oh, jadilah salah tingkah si Kanna. “yaudah deh, besok aja kita lanjutin latihannya.”kata Insto yang kemudian mengambil sepedanya. Kanna yang menunduk karena malu salah-tingkah canggung setengah mati pun menunduk. “pokoknya besok aku harus kuat menahan untuk melarut dalam permainan Insto” benak Kanna dengan tekad penuh hati yang membara. Harga diri nomor satu. Gengsi nomor wahid. Prinsip kanna untuk Insto. “ayo aku antar pulang.”senyum Insto dengan ramah. “oh, nggak usah. Aku bisa sendiri kok”. “kenapa? Kamu malu ya naik sepedah unta kayak gini?”. “bukannya gitu, tapi...”kata kanna. Tapi aku takut larut dalam hatimu.... “yaudah. Aku maksa pokoknya. Ayoo” kata insto menarik tangan Kanna untuk naik sepedah unta nyentriknya. Sebenarnya keren banget sepedahnya. Model klasik gimana gitu, tapi aneh juga insto suka memakainya. Romantis sekali, mereka berdua naik sepeda saat  semburat senja mulai menutup sinar matahari. Dengan angin yang menghembuskan helai-helai gejolak yang mulai tumbuh tanpa di sadari mereka berdua. Bercanda hanya berdua. Pengen ya? Sabar ya... hari terus berganti mereka menjadi sangat dekat. Kanna sudah mampu menguasai dirinya untuk tidak larut pada insto. Bayangkan saja, setiap hari insto selalu mengucapkan selamat pagi dan selamat tidur untuk Kanna di sela-sela obrolannya tentang pentas yang 2 minggu lagi. SETIAP HARI jam 4 mereka selalu menghabiskan waktu di taman kota bersama. Untuk kebutuhan pensi sih, tapi bukankankah witing tresno jalaran soko kulino? Setiap hari ada es krim dan setiap hari ada pengantaran pulang. Entah berapa kali Kanna pilek. Bagaimana cinta itu tidak hadir dengan sendirinya? Kanna yang mulai menyadari-pun terus menyangkal pada teman-temannya, dan juga hatinya. Sampai ia benar-benar sadar Insto memberikan terlalu banyak harapan kepadanya. Dan terlalu banyak harapan itu membuatnya sadar kalau ia menyukai Insto. Cinta itu hadir Setelah berperang antara hati dan logikanya untuk memahami Insto. Pensi itu kurang tiga hari lagi.
Persiapan mereka sudah matang. Dengan kebiasaan rutin mereka di taman kota, mereka menjadi sangat dekat. Sahabat? Lebih dari itu. “kamu mirip dengan mantanku” kata insto entah itu memuji atau menjadikan kanna sebagai bayang-bayang. Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu itupun hadir juga. Jadian? Bukan, pensi dong. Mereka tampil memukau dangan biola dan tamborin yang menjadi satu. Harmoni yang indah. “sejak saat itu, insto mulai menarik diri dariku. Tanpa satupun kata perpisahan terucap. Entahlah apa yang ada dipikirannya.” kata Kanna yang bercerita pada sahabatnya. Insto meninggalkan kanna yang mulai di rundung rasa cinta kepadanya. Setiap hari di kelas, insto benar-benar menjadi sangat dingin. Kanna pun gegana (gelisah, galau , merana. Baca; istilah keren anak jaman sekarang). Sampai ia menemukan di sosial media “Insto in relationship with....” dia balikan dengan mantannya. “gilaa, deketnya ama elu, jadiannya ama dia”kata sahabatnya. “sekarang aku baru tau bagaimana sakitnya menjadi korban PHP. Bagaimana sakitnya menyimpan harapan terlalu banyak pada seseorang yang seolah memberi kepastian. Aku selalu ragu, namun aku tetap berharap. Seharusnya aku tau saat ia berdiri memberi harapan terlalu banyak itu. Aku pernah percaya, saat aku berdiri tepat di hadapannya, ia pergi dengan mematahkan sejuta angan di hati yang mulai menerima.”

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensitifitas Keyakinan

Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis. Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya. Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-...

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...

Puisi Seorang Amatir

Kamu Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga Di sampingku dengan menatapku. Kamu. Dalam perasaan terjauh yang aku jalani Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku Kamu di sini. Bersamaku Untuk suatu hari, entah akankah pasti Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu Terbang menari bersamaku Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu Aku suka. Suka saat kau bersamaku Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’) 24 Nop. 12 20:11