Hari ini aku akan menuliskan sebuah kisah klasik. Kanna adalah siswi di
salah satu kelas musik. Ia belajar musik dengan hatinya. Kanna adalah pemain
tamborin yang handal di kelasnya. Ia benar-benar murid yang sangat ceria.
Berbeda dengan Insto, murid yang pendiam penuh dengan misteri kerennya. Hampir
semua murid bertekuk lutut menjadi fans setia mengagumi ke-kerenan-nya dan
dawai biolanya, kecuali Kanna dan murid laki-laki. Bukannya ia benci, tapi ia
hanya tidak tertarik. Kanna menganggap semua temannya sama tanpa harus
membeda-bedakan, karena itu ia menjadi pribadi yang di sukai teman-temannya.
Fansnya juga nggak kalah banyak, tapi ia cuek menanggapi-nya. “seperti
tahun-tahun sebelumnya, kita akan mengadakan pentas musik di awal tahun. Oleh
karena itu, saya akan membagi kalian dalam beberapa kelompok musik dengan
anggota dua orang anak.” Kata Mr Calpanax menerangkan dengan ke-kharismanya
menggeludak area nusantara. Murid-murid terbiasa memasang wajah mupeng
(muka-pengen) sambil senyum kedip-kedip ke arah Mr Calpanax karena kharismanya.
Seperti yang kalian duga, Kanna satu kelompok dengan Insto. “jadi, kapan kita
akan mulai latihan?” kata Kanna yang mengahampiri Insto. “taman 4 sore” jawab
Insto cueknya, kemudian berlalu pergi. “Insto ini, mau ngajak kencan apa?
Biasanya, jam 4 di taman kota kan banyak orang pacaran.”gumam Kanna dengan
menggerutu. Egois juga kesannya. Nggak enak banget ngelihat orang pacaran
berlalu lalang di depannya, sedangkan ia sedang jomb, solo karir maksudnya.
Resiko.
Pukul 4 ia datang ke taman kota. Benar saja banyak orang pacaran di
sana. “maaf, kamu nunggunya lama?” kata Insto datang dengan ransel biolanya.
Banyak cewek yang nggak kedip melihat Insto, sedangkan mereka masih menggenggam
tangan pacarnya. Gilaaa. “sopan juga si Insto, beda kayak gosip yang beredar
selama ini”gumam kanna di dalam hati sambil menggeleng kasih senyum manis.
“oiya, ini..”kata Insto sambil menyodorkan es krim coklat kesukaan Kanna. Tentu
saja Kanna terkejut. “aneh sekali”pikirnya sambil tersenyum mengambil es krim. “terimakasih. Oiya, apa konsep yang
akan kita buat?” kata Kanna melepas ke-canggung-an karena es krim tadi. “Mm,
bagaimana kalau... bla bla bla”kata Insto panjang lebar. Percuma juga aku
sebutin, aku aja nggak ngerti apa yang di omongkan insto. Kemudian Insto mulai
memainkan Biolanya, entahlah Kanna yang seharusnya memainkan tamborin justru
larut dalam permainan insto dan tanpa sadar meletakkan tamborinnya. “ia
benar-benar mengagumkan”kata kanna dalam hati sambil senyum-senyum nggak sadar.
“loh kok berhenti?”kata Kanna. Insto yang mulai sadar di perhatikan-pun
menghentikan permainannya dan berkata “kok nggak main tamborin?”. “sorry, ikut
larut. pantas aja kamu banyak yang nge-fans. Permainannya aja bikin bidadari
lupa diri gitu” kata kanna yang lagi-lagi tidak sadar dengan kata-katanya. Ia
pun menunduk malu dengan seribu wajah menutupi. Saat ia akan menegakkan
kepalanya kembali, ada sebuah bunga mawar yang tepat berada di depannya.
Insto yang memberikannya sambil tersenyum kemudian bernyanyi dengan
biolanya. Oh, jadilah salah tingkah si Kanna. “yaudah deh, besok aja kita
lanjutin latihannya.”kata Insto yang kemudian mengambil sepedanya. Kanna yang
menunduk karena malu salah-tingkah canggung setengah mati pun menunduk.
“pokoknya besok aku harus kuat menahan untuk melarut dalam permainan Insto”
benak Kanna dengan tekad penuh hati yang membara. Harga diri nomor satu. Gengsi
nomor wahid. Prinsip kanna untuk Insto. “ayo aku antar pulang.”senyum Insto
dengan ramah. “oh, nggak usah. Aku bisa sendiri kok”. “kenapa? Kamu malu ya
naik sepedah unta kayak gini?”. “bukannya gitu, tapi...”kata kanna. Tapi aku
takut larut dalam hatimu.... “yaudah. Aku maksa pokoknya. Ayoo” kata insto
menarik tangan Kanna untuk naik sepedah unta nyentriknya. Sebenarnya keren
banget sepedahnya. Model klasik gimana gitu, tapi aneh juga insto suka
memakainya. Romantis sekali, mereka berdua naik sepeda saat semburat senja mulai menutup sinar matahari.
Dengan angin yang menghembuskan helai-helai gejolak yang mulai tumbuh tanpa di
sadari mereka berdua. Bercanda hanya berdua. Pengen ya? Sabar ya... hari terus
berganti mereka menjadi sangat dekat. Kanna sudah mampu menguasai dirinya untuk
tidak larut pada insto. Bayangkan saja, setiap hari insto selalu mengucapkan
selamat pagi dan selamat tidur untuk Kanna di sela-sela obrolannya tentang
pentas yang 2 minggu lagi. SETIAP HARI jam 4 mereka selalu menghabiskan waktu
di taman kota bersama. Untuk kebutuhan pensi sih, tapi bukankankah witing tresno jalaran soko kulino?
Setiap hari ada es krim dan setiap hari ada pengantaran pulang. Entah berapa
kali Kanna pilek. Bagaimana cinta itu tidak hadir dengan sendirinya? Kanna yang
mulai menyadari-pun terus menyangkal pada teman-temannya, dan juga hatinya.
Sampai ia benar-benar sadar Insto memberikan terlalu banyak harapan kepadanya.
Dan terlalu banyak harapan itu membuatnya sadar kalau ia menyukai Insto. Cinta
itu hadir Setelah berperang antara hati dan logikanya untuk memahami Insto.
Pensi itu kurang tiga hari lagi.
Persiapan mereka sudah matang. Dengan kebiasaan rutin mereka di taman
kota, mereka menjadi sangat dekat. Sahabat? Lebih dari itu. “kamu mirip dengan
mantanku” kata insto entah itu memuji atau menjadikan kanna sebagai
bayang-bayang. Akhirnya waktu yang di tunggu-tunggu itupun hadir juga. Jadian?
Bukan, pensi dong. Mereka tampil memukau dangan biola dan tamborin yang menjadi
satu. Harmoni yang indah. “sejak saat itu, insto mulai menarik diri dariku.
Tanpa satupun kata perpisahan terucap. Entahlah apa yang ada dipikirannya.”
kata Kanna yang bercerita pada sahabatnya. Insto meninggalkan kanna yang mulai
di rundung rasa cinta kepadanya. Setiap hari di kelas, insto benar-benar
menjadi sangat dingin. Kanna pun gegana (gelisah, galau , merana. Baca; istilah
keren anak jaman sekarang). Sampai ia menemukan di sosial media “Insto in
relationship with....” dia balikan dengan mantannya. “gilaa, deketnya ama elu,
jadiannya ama dia”kata sahabatnya. “sekarang aku baru tau bagaimana sakitnya
menjadi korban PHP. Bagaimana sakitnya menyimpan harapan terlalu banyak pada
seseorang yang seolah memberi kepastian. Aku selalu ragu, namun aku tetap
berharap. Seharusnya aku tau saat ia berdiri memberi harapan terlalu banyak
itu. Aku pernah percaya, saat aku berdiri tepat di hadapannya, ia pergi dengan
mematahkan sejuta angan di hati yang mulai menerima.”

Komentar
Posting Komentar
silahkan curhatttt