Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit
sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau
bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya
tangan saya gatal untuk menulis.
Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang
merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran
adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan
saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya.
Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang
kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh
yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang
paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati.
Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu
sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti
dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri
oleh kepentingan-kepentingan sehingga tak lagi mulus. Di dunia ini tak ada yang
objektif. Kenapa? Karena kita manusia. Bahkan saat kita akan berbuat baik
ataupun berniat baik, setan memplesetkan niat saat melakukan. Maka dari itu
jika ada sepuluh orang maka belum tentu semua berpikir murni dan sama. Begitupun
100, 1000, atau 10.000 orang yang digerakkan yang saya yakin tidak semua paham
dengan apa yang ia lakukan atau setidaknya memiliki pengertian mendasar tentang
mengapa dan apa. Kemudian muncul lagi. Tindakan sensitif lagi yang disulut oleh
berbagai media yang menggiring opini publik sehingga hanya muncul kebencian
terhadap sesuatu. Dari ujung laut ke ujung pulau. Merasa paling benar atas
sesuatu. Sekali lagi, kebenaran hanya milik Allah. Saya tidak tau bagaimana
kasus ini berkembang begitu rumit hingga yang terdengar adalah suara sumbang
kebencian terhadap salah satu yang dianggap karena ‘besar’ meremehkan sesuatu
yang dianggap ‘kecil’ ataupun sebaliknya. Sedangkan hal itu sama sekali tak ada
efeknya, sama sekali tak ada artinya. Saya sering mendengar bahwa perbedaan itu
bukan untuk dibenci. Hal itu benar menurut keyakinan saya. Karena di dalam
agama saya Rasulullah pun mengajarkan tentang toleransi ketika memimpin di
Madinah. Lalu mengapa manusia begitu gegabah dalam membenci. Kemudian bela
membela dengan menginjak kepala dengan alasan agar berdiri tinggi. Mengapa
dunia begitu sibuk akhir-akhir ini? Apa yang pendidikan ajarkan soal akhidah
saling mengasihi? Di dalam Islam disebutkan bahwa Allah maha pengasih lagi maha
penyayang. Allah mengasihi setiap manusia. Lalu mengapa manusia begitu trauma
dengan beda? Saya takut di negara saya juga akan terjadi phobia seperti diluar
sana karena tindakan yang saya (masih) tidak tau itu benar atau salah. Karena
bagi saya sesuatu itu dinilai berdasarkan niatnya. Sedangkan niat berasal di
dalam hati. Hati manusia siapa yang tau? Hanya Allah yang maha mengetahui. Saya
tau betapa manusia berusaha mencoba. Namun masalah keyakinan, yang saya tau
adalah masalah yang paling sensitif untuk dibahas. Saya pernah bertanya dengan seorang
teman saya satu agama tentang alasan dari yang ia yakini yang saya anggap
berbeda dengan pemikiran saya, dan ia selalu menjawab sudahlah tak apa, nanti
kita malah berdebat. Awalnya saya bingung dan menganggap aneh. Namun
akhir-akhir ini saya sadar bahwa hal tersebut tindakan yang benar untuk
‘menjaga kedamaian’. Karena pertengkaran juga bisa disebabkan karena
perdebatan. Perdebatan bisa disebabkan karena perbedaan yang dipertanyakan. Yang
baru saya pahami adalah keyakinan bukanlah sebuah kata yang hanya
diagung-agungkan karena kata yang terangkai tersebut. Namun keyakinan adalah
apa yang benar-benar diyakini di dalam hati entah apa itu benar ataupun salah
dimata orang lain atupun dalam artian yang sebenarnya. Karena keyakinan membawa
harapan untuk tetap hidup. Seperti oase dalam padang pasir. Dan kita tidak
berhak sedikitpun untuk menginterversi pandangan orang lain dengan standar yang
kita miliki. Berbagi pendapat boleh, tetapi memaksa jangan. Karena itu bukan
bagian kita. Buka porsi manusia. Itu sudah menjadi wilayah alam untuk
memutuskan. Di dalam agama saya kata-kata ‘lakum dinukum waliyadin’ adalah
kekutan dalam toleransi bahwa bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Itu sudah
cukup jelas dan menjawab segala kegundahanmu wahai gerangan. Tak perlulah mengatakan
yang lain salah, membatasi gerak yang sama sekali tak merugikan, kita hanya
cukup berjalan pada jalan masing-masing. Karena didalam islam sama sekali tak
ada paksaan. Jika islam adalah agama yang membawa perdamaian, maka jangan
mengotori atau mengatas namakan islam dalam kebencian. Karena satu kesalahan
mampu membuat satu pandangan orang menghakimi kemurnian. Marilah benar-benar
menjaga bahwa islam adalah rahmatan lil alamin. Jangan sampai ada phobia
dinegeri ini. Jika kita berbeda pendapat, bukankah kita masih bisa berteman?
Karena makna kasih sayang itu sendiri adalah saling mengasihi bukan mendzolimi.
Sekian dan terimakasih.
Surabaya, 10 Desember 2016
Kosan lengang
Komentar
Posting Komentar
silahkan curhatttt