Langsung ke konten utama

Sensitifitas Keyakinan



Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis.

Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya.

Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-kepentingan sehingga tak lagi mulus. Di dunia ini tak ada yang objektif. Kenapa? Karena kita manusia. Bahkan saat kita akan berbuat baik ataupun berniat baik, setan memplesetkan niat saat melakukan. Maka dari itu jika ada sepuluh orang maka belum tentu semua berpikir murni dan sama. Begitupun 100, 1000, atau 10.000 orang yang digerakkan yang saya yakin tidak semua paham dengan apa yang ia lakukan atau setidaknya memiliki pengertian mendasar tentang mengapa dan apa. Kemudian muncul lagi. Tindakan sensitif lagi yang disulut oleh berbagai media yang menggiring opini publik sehingga hanya muncul kebencian terhadap sesuatu. Dari ujung laut ke ujung pulau. Merasa paling benar atas sesuatu. Sekali lagi, kebenaran hanya milik Allah. Saya tidak tau bagaimana kasus ini berkembang begitu rumit hingga yang terdengar adalah suara sumbang kebencian terhadap salah satu yang dianggap karena ‘besar’ meremehkan sesuatu yang dianggap ‘kecil’ ataupun sebaliknya. Sedangkan hal itu sama sekali tak ada efeknya, sama sekali tak ada artinya. Saya sering mendengar bahwa perbedaan itu bukan untuk dibenci. Hal itu benar menurut keyakinan saya. Karena di dalam agama saya Rasulullah pun mengajarkan tentang toleransi ketika memimpin di Madinah. Lalu mengapa manusia begitu gegabah dalam membenci. Kemudian bela membela dengan menginjak kepala dengan alasan agar berdiri tinggi. Mengapa dunia begitu sibuk akhir-akhir ini? Apa yang pendidikan ajarkan soal akhidah saling mengasihi? Di dalam Islam disebutkan bahwa Allah maha pengasih lagi maha penyayang. Allah mengasihi setiap manusia. Lalu mengapa manusia begitu trauma dengan beda? Saya takut di negara saya juga akan terjadi phobia seperti diluar sana karena tindakan yang saya (masih) tidak tau itu benar atau salah. Karena bagi saya sesuatu itu dinilai berdasarkan niatnya. Sedangkan niat berasal di dalam hati. Hati manusia siapa yang tau? Hanya Allah yang maha mengetahui. Saya tau betapa manusia berusaha mencoba. Namun masalah keyakinan, yang saya tau adalah masalah yang paling sensitif untuk dibahas. Saya pernah bertanya dengan seorang teman saya satu agama tentang alasan dari yang ia yakini yang saya anggap berbeda dengan pemikiran saya, dan ia selalu menjawab sudahlah tak apa, nanti kita malah berdebat. Awalnya saya bingung dan menganggap aneh. Namun akhir-akhir ini saya sadar bahwa hal tersebut tindakan yang benar untuk ‘menjaga kedamaian’. Karena pertengkaran juga bisa disebabkan karena perdebatan. Perdebatan bisa disebabkan karena perbedaan yang dipertanyakan. Yang baru saya pahami adalah keyakinan bukanlah sebuah kata yang hanya diagung-agungkan karena kata yang terangkai tersebut. Namun keyakinan adalah apa yang benar-benar diyakini di dalam hati entah apa itu benar ataupun salah dimata orang lain atupun dalam artian yang sebenarnya. Karena keyakinan membawa harapan untuk tetap hidup. Seperti oase dalam padang pasir. Dan kita tidak berhak sedikitpun untuk menginterversi pandangan orang lain dengan standar yang kita miliki. Berbagi pendapat boleh, tetapi memaksa jangan. Karena itu bukan bagian kita. Buka porsi manusia. Itu sudah menjadi wilayah alam untuk memutuskan. Di dalam agama saya kata-kata ‘lakum dinukum waliyadin’ adalah kekutan dalam toleransi bahwa bagiku agamaku dan bagimu agamamu. Itu sudah cukup jelas dan menjawab segala kegundahanmu wahai gerangan. Tak perlulah mengatakan yang lain salah, membatasi gerak yang sama sekali tak merugikan, kita hanya cukup berjalan pada jalan masing-masing. Karena didalam islam sama sekali tak ada paksaan. Jika islam adalah agama yang membawa perdamaian, maka jangan mengotori atau mengatas namakan islam dalam kebencian. Karena satu kesalahan mampu membuat satu pandangan orang menghakimi kemurnian. Marilah benar-benar menjaga bahwa islam adalah rahmatan lil alamin. Jangan sampai ada phobia dinegeri ini. Jika kita berbeda pendapat, bukankah kita masih bisa berteman? Karena makna kasih sayang itu sendiri adalah saling mengasihi bukan mendzolimi. Sekian dan terimakasih.

Surabaya, 10 Desember 2016
Kosan lengang

Komentar

Postingan populer dari blog ini

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...

Puisi Seorang Amatir

Kamu Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga Di sampingku dengan menatapku. Kamu. Dalam perasaan terjauh yang aku jalani Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku Kamu di sini. Bersamaku Untuk suatu hari, entah akankah pasti Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu Terbang menari bersamaku Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu Aku suka. Suka saat kau bersamaku Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’) 24 Nop. 12 20:11