"Rasa semakin tua, semakin kenal dengan dunia, ia mulai menunjukkan dirinya yang sebenarnya pada gadis muda sepertiku"-
Setauku usia adalah angka, namun juga
parameter. Tahun ini usiaku baru dua-puluh. Tidak. Sembilan belas tahun lebih
sepuluh bulan. Cukup tua bukan? Namun rasanya tak manis, mulai pahit. Semakin
merasa sedikit lebih dewasa namun disisi lain sifat kekanakan dan kelabilan
yang lebih parah dari sebelumnya. Sifat keras kepalaku, sifat menjengkelkan,
sarkatismeku, naik turun mood dan berbagai sifat lain yang muncul dan pergi
kemudian muncul kembali. Benar, pemikiran memang mulai dewasa, namun sifatku benar-benar
tidak bisa dikatakan dewasa. Sifat keras kepalaku. Egoisme, Defensif yang
tinggi, dan sifat lain yang terlalu banyak jika harus disebutkan ataupun
diklasifikasikan tentang perubahan mood drastis. Sifatku yang tak pernah kumunculkan
dalam permukaan, kini mengibar-ngibar diantara teman-temanku. Sifat
menjengkelkanku dan berbagai sifat yang tidak layak untuk kutampilkan namun
terlalu sulit untuk mengatasinya. Mengendalikannya. Susah. Hingga rasanya
begitu penat. Begitu merasa bersalah pada orang-orang yang tetap berada
disekitarku untuk memahamiku hingga mereka akhirnya memaklumiku, namun tetap
memberikan cintanya padaku. Terimakasih. Kuatkanlah hati kalian hingga aku
mencapai sifat dewasaku, nanti. Pasti, suatu saat nanti. Jika Allah memberikan
hidayahNya kepadaku. Suatu saat nanti. Terimakasih untuk tetap berada
disampingku, meski terkadang mulut seperti pedang yang menusuk nusuki rindu,
dan ekspresi tak mampu membohongi mata sayu ataupun memicing dengan penuh
kelelahan. Maaf, mungkin saat ini senyum masih malu-malu bertengger pada
wajahku. Dan terimakasih untukmu, diriku. Teruslah berkembang, hingga indah.
Surabaya, 2015
Komentar
Posting Komentar
silahkan curhatttt