Langsung ke konten utama

The Journey Of 19th 10 Months



 "Rasa semakin tua, semakin kenal dengan dunia, ia mulai menunjukkan dirinya yang sebenarnya pada gadis muda sepertiku"-

Setauku usia adalah angka, namun juga parameter. Tahun ini usiaku baru dua-puluh. Tidak. Sembilan belas tahun lebih sepuluh bulan. Cukup tua bukan? Namun rasanya tak manis, mulai pahit. Semakin merasa sedikit lebih dewasa namun disisi lain sifat kekanakan dan kelabilan yang lebih parah dari sebelumnya. Sifat keras kepalaku, sifat menjengkelkan, sarkatismeku, naik turun mood dan berbagai sifat lain yang muncul dan pergi kemudian muncul kembali. Benar, pemikiran memang mulai dewasa, namun sifatku benar-benar tidak bisa dikatakan dewasa. Sifat keras kepalaku. Egoisme, Defensif yang tinggi, dan sifat lain yang terlalu banyak jika harus disebutkan ataupun diklasifikasikan tentang perubahan mood drastis. Sifatku yang tak pernah kumunculkan dalam permukaan, kini mengibar-ngibar diantara teman-temanku. Sifat menjengkelkanku dan berbagai sifat yang tidak layak untuk kutampilkan namun terlalu sulit untuk mengatasinya. Mengendalikannya. Susah. Hingga rasanya begitu penat. Begitu merasa bersalah pada orang-orang yang tetap berada disekitarku untuk memahamiku hingga mereka akhirnya memaklumiku, namun tetap memberikan cintanya padaku. Terimakasih. Kuatkanlah hati kalian hingga aku mencapai sifat dewasaku, nanti. Pasti, suatu saat nanti. Jika Allah memberikan hidayahNya kepadaku. Suatu saat nanti. Terimakasih untuk tetap berada disampingku, meski terkadang mulut seperti pedang yang menusuk nusuki rindu, dan ekspresi tak mampu membohongi mata sayu ataupun memicing dengan penuh kelelahan. Maaf, mungkin saat ini senyum masih malu-malu bertengger pada wajahku. Dan terimakasih untukmu, diriku. Teruslah berkembang, hingga indah. 

Surabaya, 2015

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensitifitas Keyakinan

Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis. Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya. Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-...

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...

Puisi Seorang Amatir

Kamu Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga Di sampingku dengan menatapku. Kamu. Dalam perasaan terjauh yang aku jalani Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku Kamu di sini. Bersamaku Untuk suatu hari, entah akankah pasti Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu Terbang menari bersamaku Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu Aku suka. Suka saat kau bersamaku Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’) 24 Nop. 12 20:11