Langsung ke konten utama

Kisah Klasik Seorang Lavina Part 2

Lanjutan dari yang Part 1, ceritanya kagak ada yang aku edit dari pertama kali membuatnya, jadi bahasanya masih polos bocah pada zaman itu dan gak aneh-aneh:')


Chapther 3
Dasar, Orang Aneh!
Sesampainya dirumah, aku membuka pintu dan mengucapkan salam, “assalamu’alaikum”kataku setiap masuk rumah. “waalaikumsalam warohmah” jawab kakakku dengan tangan di dada. Aku pun bergegas masuk ke kamar dan mengganti pakaianku. Aku menggunakan kaos oblong hitam bergambar panda dengan celana se-lutut berwarna putih dengan garis merah beriringan. Seperti biasa, aku mengikat rambutku dengan pita merah dari tanteku. Aku mengambil radio dan menyalakannya, aku memutar chanelnya untuk mencari lagu yang bisa ku dengar. Aku pun mendengarkan lagu realigi dari opick yang bertema kematian. Aku pun merenung. Entah mengapa aku selalu kepikiran tentang bagaimana akhir hidupku, aku memikirkan dosa ku. Aku menangis, mengingat perbuatan yang sebenarnya aku tau itu salah, tapi tetap saja aku lakukan. Aku juga mengingat kesalahanku pada orang tuaku. Aku tidak mengerti... ini hanya sebuah lagu tapi dapat membuatku sadar akan kehidupan. Mungkin ini kedengarannya lebay. tapi ini memang terjadi padaku. Aku terus memikirkan itu. Seperti yang dikatakan kakakku “hidup itu yang di cari hanya bekal dengan amal dan manusia hidup hanyalah untuk menunggu kematian menjemputnya” kata kakkaku. Entah dari mana ia mendapatkan kata-kata seindah itu. Dan ketika aku menyanggahnya ia hanya berkata “ seseorang jangan melihat siapa yang mengatakan, tapi pahami apa yang ia katakan”, entah bagaimana ia mengucapkannya tapi terkadang memang ia bijaksana. Sekalipun dengan bahasa yang ia buat-buat. Lagunya pun selesai, aku langsung mematikan radio. Sambil mengusap air mata, aku bergegas keluar kamar karena perutku yang dari tadi keroncongan.
***
“Hm, di kulkas ada apa ya?” kataku sambil membuka kulkas. Ibuku belum pulang mengajar dan ayahku juga belum selesai kerja. Dan aku juga tau kalau di meja makan hanya ada kerupuk dan nasi. Itulah mengapa aku membuka kulkas. Aku pun mengambil beberapa iris tomat dan wortel, tak lupa seledri dan sawi. Aku juga mengambil sosis siap saji di atas kulkas. “enaknya masak apa ya?” bisikku pelan. “ah, oseng-oseng wae lah...”. semua bahan-bahan itu aku cuci menggunakan air kran di dapur. Aku mulai memasak, walaupun sebenarnya aku tidak tau apa yang akan ku masak. Aku sering memasak, dan juga sering gagal dalam memasak. Selalu ke-asinan ataupun kurang asin masakanku. Tapi aku juga tak putus asa apalagi menyerah. Aku akan terus mencoba sampai bisa pokoknya! yah, itupun kalau bahan-bahannya ada. hehe. Aku pun juga jarang memakai resep, karena apa yang ada pokoknya aku masukkan aja kedalam panci dan aku aduk-aduk lalu aku beri garam. Makanya rasanya selalu aneh. Tapi ini nanti semoga masakanku berhasil. Amin!. Setelah selesai, aku menghidangkannya ke dalam piring yang tlah ada nasinya. “ya Allah, semoga aja enak! ” kataku sambil mencicipinya. Setelah salah satu irisan sosis masuk dalam mulutku, aku mengunyahnya. Mataku berbinar, senyumku sumringah dan wajahku terlihat cerah. Setelah aku menelannya, aku meneguk air minum di gelasku. Aku tertawa, benar-benar tertawa. “waw..” kataku dalam tawa. Aku pun melanjutkan berbicara “waww,, hmm rasanya.. ih waw... hmmm KURANG GAREM” haha. Aku tertawa, lagi-lagi masakanku gagal. Yaudahlah ndag pa-pa, yang penting masakan sendiri akan terasa lebih nikmat sekalipun kurang garam. Ya karena, itulah hidup.
***
Tak terasa sudah jam tujuh tepat, malam hari. Aku mengambil buku dan kotak pensilku, karena aku masih harus mengerjakan tugas IPA yang belum sempat aku kerjakan. “lho,tip-X ku mana ya?” kataku sambil mencari Tip-X di kotak pensil. “Ah, ini pasti kerjaan kakakku ini, huuh dasar orang aneh. kalau mau pinjem, ya ngomong dulu dong harusnya... nggak kaya kasus pencurian gini. wis-wis, legawa waelah...” gerutuku sambil menggaruk kepalaku yang tidak gatal. “kak, tip-X ku mana?” kata ku dengan setengah membentak. “tip-X apa? Yang mana? Warna e apa? Memangnya aku pinjem ke kamu? Tu lihat tip-X ku ada banyak, mau yang mana? Yang biru, yang kuning, hitam, pink, ungu... ayo dipilih-dipilih... seribu tiga bonus tujuh.... monggo... yo-ayo!” jawab kakakku dengan nada pedagang asongan. Aneh, masak laki-laki punya tip-X warna PINK dan UNGU? “kok aneh ya? Dari mana kakakku punya tip-X sebanyak itu? Sedangkan setahuku ia tak pernah beli tip-X... ia selalu pinjam padaku dan tak pernah di kembalikan, alasannya selalu aja hilang. ” pikirku. “hm, mencurigakan!” kataku sambil menatap tajam ke arah kamar kakakku. “hayoo, berpikiran jelek itu dosa lo...” kata kakaku sambil menghalangi pandanganku ke arah kamarnya. “ya,ya ya... whatever...” jawabku yang masih curiga. Aku bergegas masuk ke kamar kakakku dan membuka laci hitam di mejanya. “Astaga, ini semua kan tip-X ku yang hilang... owh, jadi kakak yang nyembunyiin? Ih kakak ih.... buat apa ngumpulin tip-X sebanyak ini? Mau di jual? Emang laku berapa? Trus itukan yang beli aku.... and emangnya ada yang mau beli tip-X second kayak gitu?” celotehku sambil meninggikan nada suara ku.
Kakakku hanya meringis dan berkata “adek ku sayang, ini tip-X, bagi kakak adalah karya seni... kakak mau ngumpulin semua tip-X ini dan kalau perlu mau kakak museum-in. Kakak mau simpen ini, karena ini adalah kenangan dari kamu. Kalau nanti kakak udah kuliah dan nggak ketemu kamu, kakak akan selalu ingat sama tip-X kamu. Karena apabila kakak kuliah nanti, yang membuat kakak pingin pulang hanyalah untuk menemui TIP-X – TIP-X ini....!”. “ ihh, aneh... kuliahnya kan masih lama. Trus yang di jadiin alasan buat pulang hanya pingin ketemu tip-X. dasar kakak, ada aja alasannya... bilang aja mau ngirit uang jajan, ini malah banyak banget. Udah panjang banget kaya kereta kalau ngomong.” Celotehku sambil mengibaskan rambutku. Lalu aku mengambil salah satu tip-X yang berwarna ungu dan bergegas menuju kamarku dan mengunci pintunya. “eh, lav. Aku mau juss Beri-beri dengan keju diatasnya. Buatin dong!” kata kakakku sambil mengetuk pintu kamarku. “ha? Ogah ah...” jawabku sambil mengerjakan tugasku. “ ah, ayolah. Aku lagi nyidam ini lho...” sanggah kakaku dengan nada memprihatinkan. “ pokokknya nggak mau. Lagi sibuk jumpa fans aku. Dan nggak sempat ngurusin hal kayak itu” kataku. “yawdahlah, awas kau!” kata kakakku dengan nada mengancam. Kakakku benar-benar orang aneh. Mana ada jus Beri-beri? Tau buah nya aja enggak. Malah seingatku, beri-beri itu penyakit ya? Lagian malem-malem minum jus? Trus jus nya pake di taburin keju lagi... emang nya roti, pake di taburin segala. Lalu bilang nyidam? Emang ibu-ibu hamil, pake nyidam segala. Ku rasa kakak perlu di bawa ke Solo deh. Buat check kewarasannya. Wis nasib-nasib, punya kakak kok kayak gitu.

***

Chapther 4
My First Love
Setelah selesai sholat Isya’, aku berbaring di kasur dengan selimut di tanganku. Aku menggapai boneka panda di ranjangku. Terlintas dalam ingatanku bayang-bayang Fauzi. Entah mengapa, aku memikirkannya. Aku juga tidak tau, menurutku kejadian tadi pagi itu hanya hal yang biasa. Namun, masih saja aku memikirkannya. Jantungku kembali seperti tak berdetak. Mataku berbinar. Kugoreskan senyuman dalam mengingatnya. Udara terasa sejuk dan damai. Ku peluk erat boneka pandaku sambil memejamkan mata. “dia lelaki yang sempurna di mataku” bissiku pelan di hati. Tapi, aku juga tau kalau tak mungkin semua ini terjadi. Aku sadar, kalau aku hanya mengaguminya saja. Karena, dari waktu aku kelas 1, aku telah mengaguminya. Tapi hanya sekedar kagum. Atau mungkin cinta? Ku tak pernah berbicara dengannya apalagi bersamanya. Ku hanya bisa melihatnya, dan tersenyum ketika ia pergi. Aku senang bisa menyukainya, sekalipun hanya bisa menatapnya dan memalingkan wajah ketika bertemu dengannya. Mungkin aku pengecut, tak mau mengenal ia lebih dekat. Tapi memang beginilah diriku, aku tak peduli dengan anggapan apa tentangku. Menurutku tidak pantas seorang wanita yang memulai, sekalipun harus sampai 2 tahun ku menyukainya. Bahkan, ia adalah cinta pertamaku. Namun, sekarang perasaan itu tlah pergi entah kemana. Bagiku 2 tahun itu sudah waktu yang sangat lama. Aku tidak se-naiff itu. Aku tidak suka menunggu, aku berhasil melupakannya,sampai ada kejadian tadi pagi. Ia terlalu tajam dalam menatapku. Tapi aku juga tidak mau masuk dalam lubang yang sama. Ah, sudahlah... aku tak mau memikirkan hal ini. Hanya menambah strees  dalam fikiranku. Ini sudah terlalu larut. Ku pejamkan mataku dengan basmallah dalam hatiku. Berharap mimpi yang indah dan tidak lagi memimpikan Fauzi. Karena menurutku fauzi adalah mimpi buruk baik di tidurku maupun terjaga ku. Ya, sangat buruk.
***
Keeseokan harinya aku pergi ke sekolah. Tak ada yang istimewa di sekolah, hanya bertemu Fauzi dengan mata penuh harapnya. Aku selalu memalingkan wajahku ketika bertemu dengannya. Membuatku tidak nyaman ketika itu. “eh, besok libur kan?” tanya Nivseina memastikan jawaban. “libur? Emang besok ada apa?” tanyaku tidak mengerti. “iyalah, besok kan tanggal merah” jawab Arina. “wah, kalau di kalendernya Arina, Tanggalan mah semua merah. Yang warna hitam cuma hari minggu aja...” sanggah Ayla yang kemudian di sertai tawa teman-teman. “eh, tapi iya lho... besok emang beneran libur kok!” jawab Nindy yang masih tertawa. “ wah iya to? Asiklah kalau begitu” kataku dengan senyum di pipi. “Waw besok libur? Enaknya ngapain ya?” fikirku dalam senyuman manis. “hey, gimana kalau besok kita sepedah-an wae?” usul Ayla. “ide bagus. Sip, aku ikut!” jawab Arina kegirangan. “aku iya!” jawab Nivseina dan Nindy serempak. “lha kamu ikut lav?” tanya Nivseina padaku. “hm, gimana ya? Aku besok ada agenda lho... aku mau tidur. Udah lama nggak bangun telat ”  jawabku meringis. “ yealah, lavina... nggak asyik ah. Kalau nggak sama kamu mana seru!” sontak Nindy. “lha iya, loe tau nggak seh, nggak ada loe tu, nggak rame bro...”kata Ayla dengan ekspresi yang nggak jelas. “lagian, kamu itu lho. Bikin agenda kok ya bagun siang.bikin agenda itu yang bermanfaat gitu lho. Kayak kerja bakti, gotong royong, membantu ibu dan bla bla bla” tambah Arina. Aku hanya mengangguk mendengar ceramah Arina, udah kayak ibu-ibu PKK aja, ngomongnya nggak ada koma, ah temanku yang satu ini terkadang ya rada-rada og. “nggih mbak, masyaallah, udah kayak kakakku aja. Ceramahnya panjang banget. Huuh!”. “yow men live is never flat bray. jadinya gimana? Jadi ikut nggak?”tanya Ayla yang masih belum mengerti jawabanku. “yaudah deh, iya-iya...” senyumku ramah pada teman-teman. “nah, gitu dong dari tadi. Ah, kau itu!” jawab Ayla. “eh, besok jam berapa? Kumpul dimana? Trus pake baju apa ya?” tanya Arina. “ iya, gimana kalau besok kita kumpul di dekat sekolah, nanti rutenya menuju taman aja. gimana?”usul Nindy. “yaps, gua setuju...”jawab Ayla dengan ekspresi yang masih nggak jelas. “wokey, besok jam berapa?” tanya Nivseina. “hm, jam tujuh aja ya?” usulku yang sebenarnya bertanya. “jangan jam tujuh, nanti takutnya kesiangan,kalau kesiangan mataharinya keburu naik. Jadi kepanasan deh nanti!”tambah Arina. “yaudah, jam 5 aja ya kalau begitu?”kataku. “jangan jam segitu. Aku belum bangun!” kata Nivseina dengan polosnya. “ lha trus jam berapa? Emang kamu bangunnya jam berapa?” tanya ku yang semakin binggung. “kalau sekolah, aku jam setengah enam baru bangun, tapi kalau hari libur jam 9-nan.” Jawab Nivseina yang semakin polos. “ yaah, gubrak... kalau nunggu Nivseina mah kelamaan atuh neng.”jawab nindy. “lha iya, wis jam setengah enam wae ya?” kata Ayla dengan ekspresi yang sudah jelas. “wokey.!” Jawab kami serempak. Setelah itu, bel masuk berbunyi. Indah sekali bunyinya, seperti alunan biola yang berdawai memetik perlahan di kesenjangan pagi ini. Karena pelajaran pertama adalah pelajaran Bahasa Indonesia. Jadi bunyi bel yang terdengar sangat indah. Tidak seperti kemarin, seperti lonceng yang menandakan mulainya penderitaan.  Pelajaran hari ini kumulai dengan membaca Bassmallah, berharap Allah memberi kebaikan di setiap langkah yang ku jatuhkan. Amin. Setelah peajaran selesai, kami bergegas meninggalkan kelas karena bel istirahat berbunyi.
***

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensitifitas Keyakinan

Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis. Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya. Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-...

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...

Puisi Seorang Amatir

Kamu Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga Di sampingku dengan menatapku. Kamu. Dalam perasaan terjauh yang aku jalani Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku Kamu di sini. Bersamaku Untuk suatu hari, entah akankah pasti Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu Terbang menari bersamaku Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu Aku suka. Suka saat kau bersamaku Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’) 24 Nop. 12 20:11