Langsung ke konten utama

Renungan Malam Jumat

Jadi aku punya fikiran buat ngeposting apa aja yang pernah ku posting pada tumblr biar enak nyarinya gitu. So here I go. Selamat membaca :)




Renungan Malam Jumat
Lucu. Menjadi peduli itu seperti uang koin yang memiliki dua sisi. Aku tau, di dunia selalu ada yang baik dan yang buruk. Seimbang. Karena begitulah hidup. Terkadang aku begitu takut untuk memahami sisi yang lain, sedangkan di satu sisi itu membuatku merasa senang; namun aku sadar bahwa tidak selamanya menyenangkan. Kenyataan itu yang membayangiku selama ini. Membuatku takut untuk melangkah, entah maju ataupun mundur; semua memiliki resiko. Aku bersembunyi dalam zona aman ku selama mungkin. Selama aku bisa, selama aku mampu untuk lari maka aku akan terus berlari (dari kenyataan). Fase hidup itu membuatku merasa aman--namun kenyataannya aku bosan, terpuruk dan merasa menyedihkan-- Aku tidak pernah bangkit apabila keadaan sendiri yang memaksaku untuk bangkit. Begitulah hidup. Kita hanya memaksa dan dipaksa. Perasaan yang begitu rapuh ini aku bentengi dengan rasa ketakutan tentang apa  yang akan terjadi, yang membuat diriku sendiri lengket dengan tanah. Menyedihkan. Namun kamu tidak akan pernah tau jika tak berani mencobanya. Ketika kamu mulai merasakan pahit kamu akan lebih menghargai manis. Begitu pula rasa sakit. Ketika kamu telah berusaha semampumu, sekuat tenagamu, dan memasrahkan segala urusan kepada Tuhanmu, maka apapun hasilnya kamu tidak akan menyesalinya. Kamu tidak memberi ruang di dalam hati untuk rasa penyesalan. Karena hatimu tau seberapa keras kamu mencoba. Seberapa letih kamu berusaha. Begitulah perkara-perkara tersebut bekerja dengan semestinya. Kita hanya perlu mencoba. Menantang rasa takut untuk memulai. Kita bisa- atau setidaknya kita tau- ketika kita mau memulai. Yang penting itu niat. Niat untuk menjadi lebih baik. Lebih baik lagi. Tidak masalah seberapa cepat atau seberapa lambat kamu berlari, yang harus kau lakukan adalah bergerak. Terus bergerak dan memulainya dengan rasa syukur karena karunia Allah. Agar disetiap jalanmu engkau diridhoi oleh Allah. Teruslah bergerak maju, agar kau tau, agar kau siap untuk apa-apa yang menanti di depanmu. Pilihan dan takdir itu tipis. Jalani saja semua dengan ikhlas dan ridho. Bersyukurlah karena engkau memiliki Allah.
Surabaya, 25 Februari 2016

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensitifitas Keyakinan

Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis. Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya. Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-...

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...

Puisi Seorang Amatir

Kamu Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga Di sampingku dengan menatapku. Kamu. Dalam perasaan terjauh yang aku jalani Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku Kamu di sini. Bersamaku Untuk suatu hari, entah akankah pasti Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu Terbang menari bersamaku Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu Aku suka. Suka saat kau bersamaku Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’) 24 Nop. 12 20:11