Lagi korek-korek file lama trus menemukan cerita ini. Ini sebenernya cerita atau novel (?) yang aku tulis ketika masih SMP yaitu sekitar tahun 2011, 6 tahun yang lalu. Lama banget yak haha. Penulisannya juga masih polos bocah gitu, gak mau aku edited nanti kepolosannya ilang lagi. daripada nganggur kan ya di laptop trus daripada kena korban virus atau apalah nanti yang akan terjadi, kepikiran deh iseng buat ngepos seklaigus disimpen diblog yang rencananya mau aku hidupkan lagi ini setelah vakum sekian lama. Nih bonus cover yang waktu itu menurtuku udah keren banget, judulnya juga masih "Aku" gara-gara terinspirasi sebuah novel yang aku lupa apa namanya ehehe. Well Enjoy:)) selamat menikmati kalian yang lagi nganggur dan mampir ke sini:))
Lavina, Part 1
Lavina, Part 1
Chapther 1
Me aka Lavina
“lav, tutup jendelanya! ” kata kakak dengan
nada keras. “iya kak” jawabku sambil menggerutkan bibirku. “dasar orang
aneh,cuaca panas kayak gini malah suruh nutup jendela... harusnya kan
jendelanya dibiarin terbuka biar angin bisa masuk, enakan juga anginnya masuk,
daripada anginnya keluar... huuh” gerutuku dalam hati, akupun bergegas menutup
jendela,namun pada saat aku menutup jendela aku melihat sesuatu yang aku
inginkan dari dulu.. “Ihh, sepeda fixie
euy” teriakku sambil jingkrak-jingkrak dan nggak
sengaja kepalaku kebentur jendela, “aduuh, siapa sih yang naruh jendela
disini...ahhh” omelku nyalahin jendela.. padahal sebenarnya,jendela itu sudah
ada sebelum aku di lahirkan di dunia,bahkan mungkin jendela itu udah ada sejak
nenek moyangku dulu,aku memang aneh hehe.
Perkenalkan namaku Lavina Ayri Shafana, aku anak ke 2 dari 2 bersaudara, dan
saudaraku itu .. ya kakakku lah... emang siapa lagi? Furqhan Ali Habibi itulah nama kakakku,
putih, tinggi,pinter,Ketua Kelas dan Pecinta Alam,anggota Osis, begitulah
kakakku, ia slalu terlihat sempurna di mata Orang tuaku bahkan di mata Orang
lain. Sedangkan aku? Ya beginilah aku, aku memang bukan siapa-siapa. Aku ya
aku, bukan mereka ataupun kalian. Tapi aku cinta dengan diriku.... uhuuuy.... haha.aku duduk di bangku kelas 2 di Smp
Pelita cahaya, ya bisa dibilang itu salah satu smp favourite se-kota ku. Walaupun sebenarnya aku terpaksa sekolah di
sana hanya untuk mengikuti apa kemauan orang tuaku... ya tak apalah itung-itung
buat bahagiakan orang tua, nantinya kan bisa dapet pahala, kalu dapet pahala
berarti nanti masuk Suur? Ga.... yeee
pinter banget.. anaknya siapa sih? Hehe.
***
Hari ini, hari
Slasa. aku berangkat sekolah dengan naik kendaraan umum Honda jazz Kuning alias
Angkod. Dengan menggunakan baju putih-ungu
dan rambut yang teurai dengan ransel putih aku berangkat. “ma, aku
berangkat ya! Assalamu’alaikum...” kataku setengah berteriak sambil membenarkan
tali sepatu yang sering copot
sendiri. “iya, wa’alaikum salam” jawab mama yang juga terburu buru dalam
memasak. Semua nya terburu-buru, kecuali kakakku. Padahal ini sudah sangat
terlambat untuk kakakku berangkat. Setiap di tegur mama, ia sering mengatakan “
Untuk apa terburu-buru... semua juga akan terjadi.. hidup itu pilihan. Tapi
kita juga harus tau jalan mana yang akan kita pilih. Dan kita juga harus siap
untuk menerima setiap resiko dari pilihan kita sendiri. Dan aku memilih
terlambat, akupun menerima resikonya... yah,palingan juga ngebersihin kamar
mandi... atau paling nggak ya lari keliling lapangan... ah,itu mah kecil
atu.....” celoteh kakakku pada ibuku
dengan nada sok bijaksana, padahal biasanya... iihh....
Chapther 2
Orang itu...
“makasih ya pak... ambil aja kembaliannya “ senyumku ramah pada pak
sopir sambil memberikan selembar uang 2000 rupiah. “iya neng, sama-sama..
makasih ya... “ jawabnya. “iya pak” jawabku dengan hati yang ikhlas, padahal
tarif angkod memang Rp2000. Dan anehnya aku menyuruh pak supir untuk menggambil
kembaliannya. pantes aja ikhlas. karna emang enggak ada kembaliannya. hadeh
lavina-lavina....
Sesampai di sekolah, aku bergegas masuk ke kelasku. Dengan senyum
sumringah, seperti biasa aku mengucapkan salam. “Assalamu’alaikum” kataku
perlahan, kadang ada yang menjawab adapula yang sibuk dengan PR yang belum
selesai. Bagiku mereka semua yang tidak menjawab itu aneh, ada orang salam
harusnya kan di jawab, itukan sunnah Rasul. Ya nggak?! , ah mulai lagi deh ceramahku. “ eh gimana PR kamu?”
tanya Nindy dengan ramah “hm, pr ? emang ada PR ya?” tanyaku sambil
menggerutkan kening. “Iya yang kemarin, PR seni itu lho...”kata Ayla. “oh, yang
itu. udah aku kerjain. Tapi ya nggak tau salah apa benar. karena yang tau
hanyalah Allah SWT.... eheehehe”
jawabku sambil mengacung-acungkan tangan. “Halah, wis ceramah meneh ini”
sanggah Nivseina yang di sertai tawa teman-temanku. Aku pun hanya tersenyum
melihat goresan tawa teman-temanku. Ini memang indah bisa melihat temanku
tersenyum bahagia karena coletehku. Ah,, terlalu mendramatisir kata-kataku... hehe.
***
Bel masuk pun berbunyi. Nyaring sekali bunyinya, bagai suara tanda penderitaan
akan di mulai. Karena pelajaran yang pertama adalah IPS (Ilmu Pengetahuan
Sosial) dan aku selalu mengantuk setiap guruku berceramah sejarah, dan aku juga
sering tidak mengerti apa yang guruku bicarakan. ah, aku memang payah.
“iya anak-anak sekarang kita mempelajari artefak-artefak kerajaan. Apa
kalian tau bahwa artefak kerajaan itu sangat penting dan bla bla bla” celoteh guruku tanpa ada koma di setiap ia berbicara.
Sedang aku, hanya sibuk menyalin catatan sejarah dari buku tulis Nindy di buku
tulis biruku. Setelah 2 jam pelajaran, akhirnya suara yang aku tunggu-tunggu
terdengar juga. Ya, Bel tanda Istirahat berbunyi. “alhamdulillah, yess terimakasih ya Allah!” Bissikku
pelan sambil meringis. Lalu guruku bergegas meninggalkan kelasku di sertai teman-teman
yang menyalami guruku. Ketika aku bersalaman dengan guruku, aku tersenyum dan
berkata “ wah, tema pelajaran hari ini sangat menarik. Bagus banget lho bu”
senyumku sambil mengacungkan jempol, guruku hanya tersenyum. atau mungkin
guruku sudah tau kalau aku tidak begitu memperhatikan pelajaran. Wah maaf ya
bu! hehe .pantas saja kalau nilai IPS
ku selalu mendapat nilai B, dan jarang dapat nilai A. ah, tak apalah syukuri
saja... uhuuuy....
***
“Eh, ayo ke kantin” ajakku pada teman-temanku. “ayo “ jawab Nindy,Ayla,Nivseina,dan
Arina serempak. Lalu aku bergegas mengambil sepatu dan memakainya,temanku
melakukan hal yang sama. hanya yang membedakan adalah, mereka mengambil sepatu
yang berbeda. Yaitu sepatu mereka sendiri-sendiri. yaiyalah. gubrak....
Lalu kami menuruni tangga satu persatu, kemudian belok lurus ke kanan.
Ketika di depan tangga tali sepatuku kembali lepas.”eh, tuggu sebentar. Taliku
lepas” kataku setengah berteriak. Ketika aku membenahi tali sepatuku, tak
sengaja aku melihat Fauzi, kakak kelasku. Dan entah sengaja atau tidak, dia
menatapku,tajam sekali. Entah mengapa saat itu juga waktu seperti berhenti
berdetak, angin pun behembus lebih kencang dari biasanya... indah sekali,
pikirku dalam hati. Ah, apa yang kupikirkan? Akupun langsung memalingkan
pandangan dan bergegas meninggalkan tangga.
Sesampai di kantin, entah mengapa aku kepikiran kejadian tadi,memang
aneh rasanya. Tapi, ah, udahlah. logika ku kembali menyadarkan khayalanku. Di
kantin, seperti biasa aku lupa mau beli apa. Dan ujung-ujungnya tidak membeli
apa-apa. Sama seperti Ayla. Aku hanya duduk di bangku dengan Ayla dan menunggu
teman-temanku yang lain membeli sesuatu. Setelah mereka selesai, kami kembali
menuju ke kelas,dan kembali menaiki tangga lagi. Hadeh.... capek euy! Tapi tak apa, aku sudah terbiasa, dan aku juga sudah
terbiasa untuk mengeluh ketika menaiki tangga. Ya begitulah diriku.
***
Jam ke- 2 sampai ke-6 pun berjalan sangat cepat sampai tidak terasa
sampai pada pelajaran terakhir. Jam pelajaran terakhir adalah Seni budaya dan
agenda hari ini adalah memainkan Gitar. Dan aku tak bisa. “aduh” bisikku pelan
dalam hati. Aku memang tidak begitu bisa menggitar tapi dari kecil aku senang
dengan gitar. Aku juga senang melihat seseorang yang bisa memainkan gitar
dengan lancar. Bagiku itu hebat. Bahkan,
sempat dulu ketika aku masih kecil, aku menulis hobby ku adalah memainkan
gitar. Padahal, pada saat itu aku sama sekali tidak bisa memainkan gitar. Wis-wis
nasib ya nasib lah nanti. Aku pasrah saja, apabila di suruh maju untuk
memainkan gitar. Lalu guruku memanggil satu-persatu dari nama temanku untuk
maju ke depan untuk memainkan gitar. Akhirnya jam pelajaran ke-1 selesai dan
Tania adalah yang terakhir dipanggil untuk memainkan gitar. Karena guruku hanya
memakai 1 jam pelajaran untuk test. Dan sisanya adalah bernyanyi bersama.
Kemudian guruku menggambil gitarnya dan mulai memetiknya. “Sungguh petikan
gitar yang indah, sangat indah!” pikirku dalam hati. Bagiku pak Ismail adalah
seseorang yang mengagumkan. Ia bisa memainkan segala jenis musik. Bahkan ia
sanggup memaikan alat musik yang tak bisa ia lihat ataupun ia pegang, namun ia
dapat mendengar dan merasakannya. Dan alat musik itu adalah suara hatinya, ia
dapat bernyanyi dengan baik dan indah. Ia pun menyanyikan salah satu lagu
karangan Iwan fals. Dan seperti biasa, aku selalu tertegun mendengarkannya.
Tapi tidak hanya aku, banyak teman perempuanku yang merasakan sama sepertiku.
Pak Ismail memang Hebat. Aku senang dan menikmati pelajaran seni ini. Karena
suara pak Ismail dapat mencairkan susasana yang tadi membosankan kini menjadi
mengasyikkan. Hehe “makasih pak....”
bissikku pelan dalam hati.
Jam pelajaran ke-2 pun selesai. Setelah berdoa bersama, kami bergegas
untuk pulang. “eh, ayo pulang? Kamu pulang atau nginep disini? Ayo buruan pulang
ah....” kataku sambil menggapai tas ranselku yang ada di bangku. “ya nggak
lah... yo wis, kalau begitu ayo pulang” jawab ayla yang selesai berkemas.
“kalau aku mah, nggak pulang... aku mau bantuin pak giri untuk ngebersihin sekolah,
tapi kapan-kapan wae... aku kan anak rajin. hehe” pamer Nivseina pada
teman-teman padahal Nivseina selalu datang setelah bel masuk berbunyi. haduh Nivseina-Nivseina.
***
Aku dan teman-temanku pergi menuruni tangga dan belok ke kiri,lagi. Aku
bertemu dengan Fauzi yang memakai jaket coklat pekatnya dengan ransel crem nya.
Untuk sekali lagi kami bertatapan, dan entah mengapa lagi-lagi angin berhembus
sangat kencang tidak seperti biasanya. Rasanya jantungku berhenti berdetak dan
tak ingin berlalu. Namun, logikaku kembali terus menyadarkanku. Akupun
memalingkan pandangganku dan mempercepat langkahku. “ya Tuhan!” bissikku
perlahan. Memang logikaku selalu berkuasa dari pada apa yang aku rasakan. Ia
selalu memungkiri yang terjadi dan tak pernah membiarkan aku merasakan yang
namanya jatuh cinta. Sesampai di depan sekolah, aku langsung naik angkod yang
sering mangkal di depan sekolahku. Setelah angkodnya penuh, kami pun berangkat.
Kemudian sesampainya di depan perempatan, aku pun turun. Aku memberi selembar
uang 2000 rupiah kepada pak supir sambil berkata “makasih ya pak, ambil aja
kembaliannya!” senyumku yang selalu ramah setiap membayar. “iya neng” jawab pak
supir sambil menghidupkan mesinnya kembali. Seperti biasa, aku selalu
mengatakan “ambil saja kembaliannya pak” dengan senyum ramah . entah itu memang
ada kembaliannya atau tidak atau malah uangnya kurang. Tapi tak apa saya iklhas
kok pak. hehe yang penting kan
niatnya baik! ya nggak?! Dan pak sopir sepertinya juga sudah hafal dengan apa
yang ku lakukan. Setiap aku berkata seperti itu, ia hanya tersenyum dengan
keringat di kening. Sesekali ia mengusap keringatnya dengan handuk kecil yang
setia di pundaknya, seakan ikut merasakan derita dari tuannya. Namun, terkadang
aku hanya meringis ketika melihat itu. “Maaf ya pak..” bissikku perlahan.
***

Komentar
Posting Komentar
silahkan curhatttt