Langsung ke konten utama

Chapter 7 ; Chinnese Food



“ayo ganti baju sana, kita makan di luar” kata Ayahku sambil megambil kunci mobilnya. “yess, asik asik...” bisikku perlahan. Keluargaku jarang makan di luar, biasanya hanya makan dengan lauk-pauk buatan ibukku. Karena hari ini ibukku tidak masak, jadinya bisa keluar cari makan sambil keliling-keliling buat hunting makanan. Kami tiba di sebuah restoran joglo. Makanan di sini enak-enak. Menu yang di tawarkan semuanya berasal dari Jawa, maka dari itu keluargaku suka makan disini. Setelah selesai makan, kami bergegas untuk pulang. Sampai di perjalanan akan pulang, tiba-tiba kakaku berkata, “Yah, masih lapar nih, nyidam nasi goreng..”. “aku juga aku juga yah”  sanggahku dengan nada yang meledek. Kakakku suka banget nambahin bilang-bilang nyidam biar terkesan keren. Padahal dia nggak sadar aja kalau itu norak... hah, mulai deh anehnya. “ya sudah, di Chinnese food sebrang jalan itu ya?” tanya ayahku dengan sabarnya. “okedeh” jawabku serempak dengan kakakku. Setelah memarkirkan mobil putih ayahku di pinggir jalan, aku dan Mama ku saja yang keluar. Ayahku dan Kakakku tinggal di mobil. “Yang minta nasgor siapa? Yang turun siapa... wis-wis.. nasib-nasib!” gerutu ku dengan kesalnya. Setelah memesan nasgor, aku dan ibuku duduk di meja dekat penggorengan. Aku di sana hanya tertegun melihat cara menggorengnya. Wajannya besar, dengan api yang besar pula. Apinya masuk ke wajan tapi memang itu tujuannya. Untungnya aku tidak segera mengambil ember dan menyiramnya. Bisa gawat kalau aku sampai melakukannya. Yah, maklumlah.. aku kan ndeso getoh... “sebentar ya, mama mau ngomong dulu sama ayah!” kata ibuku tiba-tiba dengan bergegas meninggalkanku. “yah,,  it’s okey lah...” kataku sambil meletakkan daguku di meja, dengan tangan yang di atas meja juga. “weh, lamanya!” gerutuku dalam hati.  Lalu ibuku datang dan berkata ” ayo duduk di luar saja, adeem. di sini gerah e...”.  tanpa sepatah katapun aku berdiri dan mengikuti ibukku. Aku keluar dari ruangan tersebut. Di sudut pintu, duduk seseorang yang memainkan tombol dari handphone merahnya dan tersenyum ketika aku dan ibu ku lewat. “Wew.... cool men!” bissikku dalam hati sambil menahan tawa di bibir. Aku dan ibukku duduk di depan restoran sambil menikmati keramaian kota tempat tinggalku. “laki-laki dengan handphone yang warnanya merah agak pink, hmm siapa ya?” kata ibu ku. lho? Kok yang bilang gitu ibuku? Harusnyakan jiwa-jiwa muda sepertiku. Yaah, mama.... “  ada apa memangnya?” tanyaku dengan sok cuek. Memang keren sih, putih, tinggi dan manis... dan usianya terlihat di bawah kakakku.  Aku meliriknya sekali lagi, dia hanya tersenyum dan kembali melihat handphone nya. Tiba-tiba ibuku berdiri dan menghampirinya dan berkata, “dulu di SMP Al-Hikmah ya?” tanya ibukku sambil memperhatikan wajahnya. “iya, bu!” jawabnya dengan kerennya. “maaf, saya beneran lupa. Nama kamu siapa ya?” tanya ibuku sekali lagi. “illyas bu!” jawabnya dengan ekspresi yang masih keren. Ternyata dia Illyas, murid ibuku dulu yang sekarang satu SMA dengan kakakku. Dia adik kelas kakakku. Aku hanya tersenyum sambil sesekali memandanginya. Ibu ku dan Illyas bicara banyak sekali. Aku di kacangin, sampai tiba-tiba ia berkata, “bu, itu anaknya ya?” tanyanya dengan senyum ramah. Aku tersadar dari gerutu ku dan tiba-tiba tersenyum sendiri sambil menganggukkan kepalaku perlahan ke arahnya. Entahlah, reflek otak sama hati lagi nggak sinkron. Ah, rasanya bulan terlihat lebih besar dari biasanya. Angin malam yang dingin, tiba-tiba saja menjadi hangat... ah, aku kembali senyum-senyum sendiri.”keren banget sih tu orang.” sekali lagi bissikku perlahan dalam hati sambil terus melirik ke arahnya yang sedang bicara pada ibuku. Setelah nasi gorengnya sudah di bungkus, ibuku menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah untuk di bayarkan ke kasir. Setelah itu kami bergegas menuju mobil. “duluan ya nak Illyas!” kata ibuku pamit pada muridnya itu. “iya bu!” jawabnya disertai senyum indahnya itu. Ciyeeilah... indah og... haha. Aku pun hanya tersenyum kepadanya sambil menatapnya. “Ah, dari tadi aku hanya tersenyum saja. Aku juga pingin kali ngomong sama dia. Mbok ya dikenalin kek gerutuku dalam pikiran yang melayang. Setelah masuk di mobil kami bergegas untuk pulang, karena malam sudah lumayan larut. “siapa ma, tadi?” tanya ku yang sebenarnya sudah tau jawabannya. “owh, itu tadi illyas, murid mama dulu!” jawab ibuku sambil mengemasi kantong plastik tadi. Ibuku cerita banyak tentangnya. Yang paling membuatku tertegun adalah ketika ia di tanya ibuku sedang apa dia, dia hanya menjawab “ tadi habis main dari rumah teman bu, lalu mau beli nasi goreng buat sahur nanti. Soalnya dari pada nanti bingung mau nyari lauk buat di makan sahur Puasa rutin Senin-Kamis saya bu..” jawabnya dengan polosnya. Juga “ saya juga masih bisa baca Kitab Kuning bu, saya masih sering membacanya!”. Barakallah, keren sekali itu orang. setelah mengganti pakaianku, aku membaringkan tubuhku dan pergi kepulau kapuk alias kasur. Aku tertidur pulas dan berharap memimpikan Illyas.

Komentar

Postingan populer dari blog ini

Sensitifitas Keyakinan

Sebenarnya saya abai dengan isu yang “sedikit sensitif” dan lebih memilih untuk membiarkannya mengalir saja tanpa mau tau bagaimana, namun akhir-akhir ini masalah berkembang begitu luas hingga rasanya tangan saya gatal untuk menulis. Jadi begini, bagi saya dengan dengan seseorang merasa paling benar atas apa yang dia lakukan adalah salah. Karena kebenaran adalah milik Allah. Titik. Pun tulisan saya ini belum tentu benar ataupun salah dalam artian yang sebenarnya. Hal itu sama sekali tidak membenarkan yang kanan maupun yang kiri. Tidak perlu melukai ataupun menyalahkan anggota tubuh yang lain. Saya tidak tau bagaimana hal seperti ini bermula. Masalah yang paling sensitif jika menyangkut tentang apa yang ada diyakini dalam hati. Karena setiap orang berbeda, begitu pula pemahaman setiap pribadi belum tentu sama. ‘momen’ yang saya sendiri tidak tau bahwa itu benar atau salah seperti dimanfaatkan untuk menggerakkan harga diri yang awalnya tulus namun dicampuri oleh kepentingan-...

KUNCI 3cm

Malam ini pengen nulis cerita yang singkat banget. Semoga. Malam ini aku melihat bintang, namun kualihkan pandanganku pada bulan karena lebih sangat menarik. Super Moon. Keren sekali. Sambil bergumam dengan tersenyum. NO! Bukan kayak formu! Aku tidak berbicara sendiri pada bulan. Tetangga bakal curiga dengan gosip aneh dan jadi artis dadakan jika aku melakukannya. Aku hanya bernyanyi sambil melihat tarian bintang (baca; kelap-kelip). Hembusan angin yang meniupkan aroma tanah basah karena hujan. Suasana yang sangat indah kan? Suatu saat aku akan rindu saat-saatku seperti ini. Tiba-tiba terdengar suara motor yang berhenti di depan rumahku. Suara motor yang aku kenal. Suara tertawa yang sepertinya aku pernah mendengarnya. Buk.. buk.. buk.. (baca; suara orang lari). Aku berlari setelah mendengar suara ketukan pintu. Saat aku membuka pintu. Deg.. deg.. deg.. (baca; suara debaran jantung :D). Pelan-pelan aku membukanya, pelan, pelan kaya film di selowmosyeeenn. .. dan seketika itu tubuh...

Puisi Seorang Amatir

Kamu Tidak perlu kematian untuk menunjukkan surga Di sampingku dengan menatapku. Kamu. Dalam perasaan terjauh yang aku jalani Rekah senyum yang seutas untuk bangkitku Kamu di sini. Bersamaku Untuk suatu hari, entah akankah pasti Yang ku tau putih atau hanya abu-abu dan rekaan semu Terbang menari bersamaku Ataupun sekedar menangis dalam air mata itu Aku suka. Suka saat kau bersamaku Memberiku cahaya untuk terang yang aku lewati Yang tak lagi sendiri karena kini kau tlah bersamaku. :’) 24 Nop. 12 20:11