![]() |
“ayo ganti
baju sana, kita makan di luar” kata Ayahku sambil megambil kunci mobilnya. “yess, asik asik...” bisikku perlahan.
Keluargaku jarang makan di luar, biasanya hanya makan dengan lauk-pauk buatan
ibukku. Karena hari ini ibukku tidak masak, jadinya bisa keluar cari makan
sambil keliling-keliling buat hunting
makanan. Kami tiba di sebuah restoran joglo. Makanan di sini enak-enak. Menu yang di tawarkan semuanya berasal
dari Jawa, maka dari itu keluargaku suka makan disini. Setelah selesai makan,
kami bergegas untuk pulang. Sampai di perjalanan akan pulang, tiba-tiba kakaku
berkata, “Yah, masih lapar nih, nyidam nasi goreng..”. “aku juga aku juga yah” sanggahku dengan nada yang meledek. Kakakku suka
banget nambahin bilang-bilang nyidam biar terkesan keren. Padahal dia nggak
sadar aja kalau itu norak... hah, mulai deh anehnya. “ya sudah, di Chinnese
food sebrang jalan itu ya?” tanya ayahku dengan sabarnya. “okedeh” jawabku
serempak dengan kakakku. Setelah memarkirkan mobil putih ayahku di pinggir
jalan, aku dan Mama ku saja yang keluar. Ayahku dan Kakakku tinggal di mobil.
“Yang minta nasgor siapa? Yang turun siapa... wis-wis.. nasib-nasib!” gerutu ku
dengan kesalnya. Setelah memesan nasgor, aku dan ibuku duduk di meja dekat
penggorengan. Aku di sana hanya tertegun melihat cara menggorengnya. Wajannya
besar, dengan api yang besar pula. Apinya masuk ke wajan tapi memang itu
tujuannya. Untungnya aku tidak segera mengambil ember dan menyiramnya. Bisa
gawat kalau aku sampai melakukannya. Yah, maklumlah.. aku kan ndeso getoh... “sebentar ya, mama mau
ngomong dulu sama ayah!” kata ibuku tiba-tiba dengan bergegas meninggalkanku.
“yah,, it’s okey lah...” kataku sambil meletakkan daguku di meja, dengan
tangan yang di atas meja juga. “weh, lamanya!” gerutuku dalam hati. Lalu ibuku datang dan berkata ” ayo duduk di
luar saja, adeem. di sini gerah e...”.
tanpa sepatah katapun aku berdiri dan mengikuti ibukku. Aku keluar dari
ruangan tersebut. Di sudut pintu, duduk seseorang yang memainkan tombol dari
handphone merahnya dan tersenyum ketika aku dan ibu ku lewat. “Wew.... cool
men!” bissikku dalam hati sambil menahan tawa di bibir. Aku dan ibukku duduk di
depan restoran sambil menikmati keramaian kota tempat tinggalku. “laki-laki
dengan handphone yang warnanya merah agak pink, hmm siapa ya?” kata ibu ku.
lho? Kok yang bilang gitu ibuku? Harusnyakan jiwa-jiwa muda sepertiku. Yaah,
mama.... “ ada apa memangnya?” tanyaku
dengan sok cuek. Memang keren sih,
putih, tinggi dan manis... dan usianya terlihat di bawah kakakku. Aku meliriknya sekali lagi, dia hanya
tersenyum dan kembali melihat handphone nya. Tiba-tiba ibuku berdiri dan
menghampirinya dan berkata, “dulu di SMP Al-Hikmah ya?” tanya ibukku sambil
memperhatikan wajahnya. “iya, bu!” jawabnya dengan kerennya. “maaf, saya
beneran lupa. Nama kamu siapa ya?” tanya ibuku sekali lagi. “illyas bu!”
jawabnya dengan ekspresi yang masih keren. Ternyata dia Illyas, murid ibuku
dulu yang sekarang satu SMA dengan kakakku. Dia adik kelas kakakku. Aku hanya
tersenyum sambil sesekali memandanginya. Ibu ku dan Illyas bicara banyak
sekali. Aku di kacangin, sampai
tiba-tiba ia berkata, “bu, itu anaknya ya?” tanyanya dengan senyum ramah. Aku
tersadar dari gerutu ku dan tiba-tiba tersenyum sendiri sambil menganggukkan
kepalaku perlahan ke arahnya. Entahlah, reflek otak sama hati lagi nggak
sinkron. Ah, rasanya bulan terlihat lebih besar dari biasanya. Angin malam yang
dingin, tiba-tiba saja menjadi hangat... ah, aku kembali senyum-senyum
sendiri.”keren banget sih tu orang.” sekali lagi bissikku perlahan dalam hati
sambil terus melirik ke arahnya yang sedang bicara pada ibuku. Setelah nasi gorengnya
sudah di bungkus, ibuku menyerahkan selembar uang lima puluh ribu rupiah untuk
di bayarkan ke kasir. Setelah itu kami bergegas menuju mobil. “duluan ya nak
Illyas!” kata ibuku pamit pada muridnya itu. “iya bu!” jawabnya disertai senyum
indahnya itu. Ciyeeilah... indah og...
haha. Aku pun hanya tersenyum kepadanya sambil menatapnya. “Ah, dari tadi
aku hanya tersenyum saja. Aku juga pingin kali ngomong sama dia. Mbok ya
dikenalin kek” gerutuku dalam pikiran
yang melayang. Setelah masuk di mobil kami bergegas untuk pulang, karena malam
sudah lumayan larut. “siapa ma, tadi?” tanya ku yang sebenarnya sudah tau
jawabannya. “owh, itu tadi illyas, murid mama dulu!” jawab ibuku sambil
mengemasi kantong plastik tadi. Ibuku cerita banyak tentangnya. Yang paling
membuatku tertegun adalah ketika ia di tanya ibuku sedang apa dia, dia hanya
menjawab “ tadi habis main dari rumah teman bu, lalu mau beli nasi goreng buat
sahur nanti. Soalnya dari pada nanti bingung mau nyari lauk buat di makan sahur
Puasa rutin Senin-Kamis saya bu..” jawabnya dengan polosnya. Juga “ saya juga
masih bisa baca Kitab Kuning bu, saya masih sering membacanya!”. Barakallah,
keren sekali itu orang. setelah mengganti pakaianku, aku membaringkan tubuhku
dan pergi kepulau kapuk alias kasur. Aku tertidur pulas dan berharap memimpikan
Illyas.

Komentar
Posting Komentar
silahkan curhatttt