“kenapa, kau selalu menahan perasaanmu?”Hero mulai mengatakannya. “apa maksudmu?”Osin yang tak pernah begitu jelas dengan celoteh Hero. “kamu, selalu menahan air matamu. Kamu selalu menahan bibirmu untuk sekedar mengatakan apa yang membuatmu menyendu. Mengapa tak kau coba untuk
berbicara?”. “kamu. Berkata seolah-olah peduli. Namun luka ini milikku dan rasa ini yang menyayatku. Tidak akan ada yang mengerti” Osin memasang
wajah alay. Tanpa terasa Osin tak kunjung menghentikan air matanya. “aku tau setiap orang memiliki rahasia. Rahasia di dalam hidupnya. Aku tidak akan
memaksamu untuk bercerita. Namun, aku akan selalu menunggumu dan ada disini untuk mendengarmu berbicara.”tatapan Hero kosong saat
mengatakannya. Untuk sekedar, Osin mengusap airmatanya kemudian ia melanjutkan berbicara dengan sedikit terbata-bata “apakah kau pernah
mencintai seseorang? Dan menggantungkan kebahagiaanmu kepada orang yang sama sekali TIDAK mencintaimu?” untuk kali ini Osin benar-benar tidak
bisa menahan air matanya, ia benar-benar patah hati berat se-ujung dunia minta di tabok. “Aku... aku hanya, “ dengan sedikit ragu Hero menjawab
perasaan gundah Osin dengan modus curhat colongannya “di dalam hidupku aku hanya menyukai seseorang. Aku bahkan tidak peduli apa yang ia rasakan
tentangku. Entah ia membenciku atau menyukaiku, aku hanya benar-benar merasa cukup saat aku berada di dekatnya. Bagiku, cinta hanya sesederhana
itu” jelas Hero dengan tersenyum sambil menahan perasaannya, ia senang sekali bisa mengatakan kata-kata se-mengharu-biru minta ditabok seperti itu.
“bagaimana kau bisa bertahan?” . “entahlah, aku hanya membiarkan perasaanku mengalir tanpa memintanya untuk memahami apa yang terjadi”. Kali ini Osin menghentikan air matanya dan mulai berbicara. “dengan caramu yang seperti itu, apakah kau sama-sekali tidak terluka?”. “luka? Temanku luka, tapi cintaku nyata. Aku terlalu terluka hingga rasa sakit karena luka itu mulai tidak terasa dan membuatku mati rasa.” Kata Hero yang mulai tersadar, Osin telah berhenti menangis. Sambil menatap Osin, Hero mulai bertanya “kenapa kau berhenti menangis?”. “aku kira, hanya aku yang merasakan perasaan se-sakit itu. Ternyata, kamu malah lebih parah. Coba aja ada doraemon!”jawab Osin yang mulai tersenyum. “ehm, nggak separah yang kamu kira. Sebenarnya, aku tidak se-menyedihkan itu. Itu hanya klausa majas bertingkat pada retoris kejombloanku. Tapi, apa hubunganya dengan ada tidaknya doraemon?”terang Hero yang mulai membetulkan posisi duduknya di bangku taman sore itu. “jika ada doraemon, aku bisa meminta alat ajaib anti galau yang akan menghapus kegalauanku. Dunia bebas galau. Aku sayang doraemon. Hanya doraemon. Aku cinta doraemon” jawab Osin yang terkenal pengkhayal kartun terhebat sepanjang masanya. “jadi, yang kamu bicarakan tadi, cinta yang di tolak tadi. Itu tentang ehm, doraemon?”tanya Hero. Osin melotot dengan hidungnya. Hero menggidik bulu jambul rambutnya. Tanpa sadar, hari mulai gelap. Mereka berdiskusi tentang cinta atau lebih tepatnya perasaan yang sama-sama tidak terbalaskan, sama-sama jomblo ngenes yang meminta untuk memiliki... ehm, susah sekali menyebutkannya. Kemudian setelah selesai merapikan buku-buku jurus cintanya, mereka mulai meninggalkan bangku taman tempat mereka biasa bertemu, untuk sekedar berbicara masalah seputar kehidupan yang mereka jalani, walau sebenarnya hanya bercerita rintihan ngenes solo karier. Saat berjalan menuju rumah, Osin bertanya kepada Hero “memangnya siapa yang kamu maksudkan?”. “siapa apanya?” jawab Hero yang tiba-tiba menunjukan graduasi warna yang hebat pada wajahnya, kelap-kelip sambil kedip-kedip . “orang yang kamu sukai itu. Siapa?”tanya Osin. “kamu”. #eeaaa
Komentar
Posting Komentar
silahkan curhatttt